Sabtu, 05 Februari 2022

Sat Set Wat Wet dalam Kebaikan

04.18 0
SSWW  sekarang sedang ngetrend di kotaku. Sebuah slogan yang dipopulerkan oleh beliau Bapak Aji, Bupati Pacitan.


SSWW [Sat Set Wat Wet] memiliki makna yang mendalam.

Slogan ini biasa dipakai para sesepuh untuk melecut semangat.

Dalam hidup ini, manusia terbaik adalah mereka yang bisa cepat mengambil kesempatan dan bergegas menyelesaikan tugasnya. Untuk mencapainya, butuh dorongan agar senantiasa bersegera dalam kebaikan.

Dalam kitab Riyadhus Shalihiin, aku pernah membaca ada satu bab, yakni bab bersegera dalam melakukan kebaikan dan dorongan bagi orang-orang yang ingin berbuat baik agar segera melakukannya dengan penuh kesungguhan tanpa ragu sedikitpun. Imam Nawawi bahkan mengulasnya dalam satu bab khusus di buku ini.

Sangat tepat jika sat set wat wet dalam melakukan kebaikan sangat diperlukan. Allah berfirman dalam QS Al Abaqarah ayat 148 yang artinya;

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Ayolah sat set wat wet dalam melakukan kebaikan. Karena sejatinya kesempatan hidup manusia sangat terbatas, berbuat baik harus disegerakan.

Yakinlah bahwa setiap perbuatan baik pasti akan menginspirasi orang lain untuk berbuat baik juga. Maka sat set wat wet dalam kebaikan, adalah ibarat menanam yang kelak akan menuai keberkahan.

Namun bertindak sat set wat wet dalam kebaikan membutuh niat dan tekad kesungguhan yang kuat. Masih dalam buku Riyadhus Shalihiin, Imam An Nawawi juga mengatakan: bil jiddi min ghairi taraddud. Kalimat ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kebaikan dicapai oleh seseorang yang setengah hati dalam mengerjakannya. 

Billahi fi sabililhaq fastabiqul khaerat


.....

πŸ”₯ Puncak Linggomanik, 
di akhir pekan BuPer yang membahagiakan

Rabu, 02 Februari 2022

Bulan Rajab Tiba, Ayo Segera Bayar Hutang Puasa Ramadhan!

05.29 0

Setiap tanggal 1 tiba waktunya untuk kegiatan Yasinan ibu-ibu di dusunku. Alhamdulillah kegiatan rutin ini sudah berjalan sejak lima tahun yang lalu. Biasanya setelah membaca surat Yasin bersama-sama, ibu-ibu saling tausiahan atau membicarakan kegiatan dusun lainnya.

Pembacaan surah Yasin sudah berakhir, tetiba aku jadi pengen nanya ke ibu-ibu tetangga, _“Bu-ibu hutang puasa Ramadhan yang tahun kemarin apa sudah lunas nggih?"_

Mak plengos...

Tampak beberapa Bu-ibu terkaget-kaget mendengar pertanyaanku

“Wah... Belum mba, masih belum sempat untuk puasa, haduh... untung mba Yani ingetin," salah satu tetanggaku menjawab.

“Iya nih... bentar lagi Lebaran to mba, gak kerasa yoo..." timpal ibu yang lain.

“Ho oh nih Bu, Lebaran tinggal ngitung hari lho."

Wa lha dalah...
Kok Lebarannya dulu yang diingat πŸ˜€

“Bu ibu, Ramadhan dulu lho baru Lebaran, hayo... sudah punya persiapan pa belum buat menyambut datangnya bulan Suci Ramadhan?" kataku sambil tersenyum simpul.

“Emang harus nyiapin apa mba buat nyambut datangnya bulan Ramadhan?" tanya seseibu yang duduk di sampingku.

....


Dialog selepas Yasinan itu menjadi reminder buat diriku, bahwasanya Ramadhan telah datang menjelang, meruntuhkan kerinduan. Bulan mulia dimana terdapat lailatul qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Kerinduan hati ini kan segera terobati, perjalanan menjemputnya pun segera dimulai. Apalagi hilal bulan Rajab pun telah nampak. 

Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang ditetapkan Alloh SWT.

Bulan dimana pemanasan menuju bulan Ramadhan dimulai. 

Bulan dimana para alim ulama mengajarkan harus lebih memperbanyak amal shalih dan menjauhkan diri dari melakukan perbuatan maksiat dan tidak disenangi oleh Alloh SWT.

Tak cukup hanya membayar hutang puasa Ramadhan namun jasadiyah, ruhiyah, fikriyah bahkan maliyah harus dipersiapkan.

 Ψ£Ω„Ω„َّΩ‡ُΩ…َّ Ψ¨َΨ§Ψ±ِΩƒْ Ω„َΩ†َΨ§ فِيْ Ψ±َΨ¬َΨ¨َ وَΨ΄َΨΉْΨ¨َΨ§Ω†َ وَΨ¨َΩ„ِّΨΊْΩ†َΨ§ Ψ±َΩ…َΨΆَΨ§Ω†

"Allahumma barik lana fi rajaba wa syabana wa balighna Ramadana".

Artinya: "Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban serta pertemukanlah kami sampai bulan Ramadan".

Ah... kenapa hatiku berdesir hatiku ketika melafalkan do'a ini?


BuPer, Malam 1 Rajab 1443 H

Senin, 31 Januari 2022

Adab Dulu! Baru Ngelmu

05.24 0
Samar-samar kudengar seorang anak kecil sedang menghafal teks Pancasila.

“Pancasila"
“Satu… Ketuhanan Yang Maha Esa"
“Dua… Kemanusiaan yang adil dan beradab"
“Tiga…”

Baru mendengarnya menghafal sampai sila kedua, tetiba anganku melayang…

Mataku tertumbuk pada sebuah spanduk hardiknas yang masih terpasang di sudut sebuah bangunan.

“Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar"

Demikian yang tertulis dalam spanduk tersebut.

“Beradab" 
“Merdeka"
“Belajar"

Tiga kata tersebut seakan mengiring anganku yang melayang.

Mengapa manusia harus adil dan beradab?
Apakah dengan mempelajari adab maka akan merdeka dalam belajar?

Ah … otakku berfikir keras, mengingat-ingat berapa lama waktu menuntut ilmu yang telah kulewatkan selama ini.

Enam belas tahun atau malah sudah lebih dari separuh umur sudah kulalui  di jalan para pencari ilmu?

Akankah lamanya waktu itu sudah menghantarkanku meraih kemerdekaan dalam belajar?


Teringat kembali nasihat gurunda tentang adab dalam menuntut ilmu. 

Teringat pula bagaimana pesan ibunda Imam Malik ra. saat putranya itu hendak berangkat menuntut ilmu;

“Pelajarilah adab Syaikh Rabi`ah sebelum belajar ilmu darinya.”

Adalah juga Abdurrahman bin Al-Qasim, salah satu murid Imam Malik yang berkata; “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, 2 tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab."

Hhhmmmm...

Ternyata...para alim cendekia terdahulu begitu berhati-hati dalam menuntut ilmu, tak terburu-buru hanya untuk mereguk manisnya ilmu dari gurunda sebelum selesai mencontoh adab beliaunya.

Meski ilmu bisa dipelajari, namun sejatinya adab hanya bisa ditularkan. Karenanyalah menerapkan adab membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan mempelajari ilmu


Maka benarlah jika banyak orang berilmu namun kebarokahannya kurang terasa. Hal itu bisa jadi karena adab belum mengakar namun tergegas untuk meraih gelar.

Kunci kemerdekaan dalam belajar adalah sabar. Sabar dalam menuntut ilmu, berpangkal dari adab. Paham atas ilmu, berawal dari adab. Tersebarnya ilmu, bermula dari adab. Kemerdekaan belajar bersumber dari membumikan adab  barulah melangitkan ilmu.

BuPer, akhir Januari 2022

Rabu, 26 Januari 2022

Candramawa Kehidupan

04.49 0
Kehidupan sejelas warna hitam dan putih. Dimana akan berlaku pula kehidupan berpasang-pasangan maupun hal yang berlawanan.


Layaknya siang dan malam, demikianlah kejelasan kita saat menapaki kehidupan.

Hitam mungkin menyembunyikan kelam sedangkan putih bisa jadi menghadirkan pencerahan.

Meski warna hitam dan putih terlihat jelas, namun terkadang kehidupan manusia dengan segala keunikannya justru mampu menyembunyikannya jalan fujur atau taqwa yang dipilihnya.

Tak mudah mengenali kehidupan seseorang hanya dengan melihat dari sudut penampilannya saja

Orang Jawa bilang “Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang” yang artinya kurang lebih yaitu “Hakekat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang/melihat sebuah kehidupan".

Tak bisa hanya karena ingin melihat atau agar dilihat orang lain, namun yang paling penting adalah bisa melihat diri sendiri.

Tak cukup puas hanya melihat aura putih yang terpancar dari jiwa kita karena alih-alih itu menjerumuskan diri menjadi jumawa.

Lihatlah.... 
Barangkali masih terbersit setitik noktah hitam kelam yang terselubung dalam relung hati.

Tak salah belajar pada candramawa, bahwa tak selamanya putih akan larut dalam hitam. 

Demikianlah dalam kehidupan, pasti akan ada saatnya semuanya akan menjadi jelas.

BuPer, 26 Januari 2023

Minggu, 08 Agustus 2021

Lima Hari Lima Kematian

03.09 0


Klunthing... Klunthing... Klunthing... Klunthing... Klunthing...


Banyak notif WA dan FB masuk ke HPku saat “tilik” online. Rerata semua mendo'akan dan memberikan semangat agar kami sekeluarga tak pantang menyerah untuk mendamaikan Mas Kopit dan Mba Aritmia (gangguan irama jantung) yang ada dalam tubuhku.


Seorang kolega mengirim pesan, “Wis to... Anggap sedang flu biasa saja."


Atau pesan dari masku yang mengatakan, “Kamu tu udah sering kena serangan mba Aritmia. Ra sah nggagas... Ngko mesti mari".


Atau mbakyuku yang setiap VC atau chat pasti bercerita lucu. 


Bahkan anakku membawakan headset saat hendak berangkat ke Hotel Putih. Katanya biar aku gak denger bisik-bisik tetangga. Karena begitulah, menginap di kamar isolasi itu los dol... 


Namun afirmasi dan headset, semua itu tak bisa memfilter backsound bangsal isolasi Hotel Putih yang tertangkap jelas oleh indera pendengaran ku.  Jangankan suara, penglihatan pun begitu. Alhamdulillah asuransi yang kami ikuti menempatkan aku di kelas 1. Mayan bed tempatku menginap tertutup oleh tirai biru yang meneduhkan mata.


Tapi tetap saja ketika anakku telpon pasti terdengar backsound bisik-bisik tetangga. Backsound yang tak bisa membuatku tidur pulas tanpa bantuan si Alprazolam.


Bicara tentang si Alprazolam, dialah yang paling berjasa membuat mba Aritmia dan Mas Kopit anteng sesaat. Nanti deh percakapan mereka aku tuturkan tersendiri.


Lima hari menginap di Hotel Putih dengan lima kali menyaksikan kematian cukup membekas dalam hatiku.


Oke ... 

Kalian bisa menganggap si Mas Kopit ini flu biasa, karena Mas Bojo dan anak-anakku yang juga diganggunya dapat segera pulih secara paripurna. 


Namun tidak dengan kami, para pejuang, yang menginap di bangsal isolasi Hotel Putih ini. Tak pandang usia, kami datang dengan bermacam-macam komorbid. Seperti aku datang bersama mba Aritmia yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan gagal jantung yang berujung kematian.


Lima hari aku menginap di bangsal ini, lima diantara kami, para pejuang tak mampu lagi meneruskan perjuangan….


Pejuang yang pertama mengakhiri perjuangan adalah seorang bapak-bapak. Sebenarnya beliau sudah menginap beberapa hari sebelumku. Kondisinya saat aku masuk masih memakai ventilator. Di antara para pejuang di bangsal ini, mungkin hanya aku seorang yang tidak mengenakan topeng udara itu. Alhamdulillah selama menginap, saturasiku stabil, di atas angka 96. Meski oxymeter kadang gak bisa cepat mendeteksi karena kecilnya jari jemari tanganku.


Malam sebelum sesebapak ini mengakhiri perjuangan, kudengar percakapannya dengan salah seorang power rangers (sebutanku untuk para perawat). Inti percakapannya kurang lebih mengatakan gula darah sesebapak itu tidak stabil. Jadi harus mengurangi beberapa makanan bekal dari rumah.


Sesebapak itu sangat emosi, istri yang setia menunggunya tak ayal menjadi sasaran kemarahannya. Begitu emosinya hingga berujung kepanikan yang membuatnya semakin sulit bernafas. Meski oksigen dalam ventilator dialirkan penuh ternyata tak bisa membuatnya bertahan. Beliau mengakhiri perjuangan dalam amarah di saat sang istri sedang di kamar mandi.


Yang kedua adalah kepergian seorang ibu yang sudah sepuh. Aku sendiri kurang paham kondisinya karena tempatnya menginap berseberangan denganku. Hanya yang kuingat adalah ucapan lirihnya untuk minta pulang yang diucapkan berkali-kali. Kutahu kepergiannya dari Mas Bojo.


Hari selanjutnya, samping ruangku kembali terisi. Seorang bapak yang baru pulang kampung dari merantau di luar pulau. Dengan diantar tetangganya, si Bapak menurutku sudah tidak baik. Mulai masuk selalu ingin melepas ventilatornya. Suaranya sudah putus-putus, ditingkahi suara oksigen yang keluar dari ventilator secara full membuatku sulit tidur. Dan Allah berkehendak, tak sampai satu malam, bapak itu berhenti berjuang.


Pejuang keempat yang tak bisa meneruskan perjuangan sangat memilukan. Sudah empat hari beliau berjuang bersamaku di bangsal ini. Kondisinya sudah cukup stabil, hanya gula darahnya yang belum stabil. Anak yang menungguinya setia memutarkan murotal untuk membuat si ibu tenang. Namun di tengah ketenangan, tetiba ibu itu mengalami kepanikan yang luar biasa. Teriakan Allahu Akbar tak pernah terputus dari lisannya. Suaranya yang keras cukup membuatku bergidik. Sebersit pertanyaan menghantaui pikiranku, seberapa sakit sebuah kematian?

Sehingga tak mampu membuat ibu itu bersabar?


Akhirnya ibu itu berhenti berjuang dalam kekalutan. Betapa terpukul anak yang telah berhari-hari mendampinginya berjuang. Aku baru kali ini mendengar seorang pemuda meraung-raung dengan kerasnya.


Hari kelima, ruang sebelahku kembali kedatangan seorang pejuang. Ibu muda dengan diantar suaminya, hampir tak ada suara yang keluar dari ruanganya. Saat Mas Bojo iseng menengok untuk memberi support kepada sang suami, ternyata si istri sudah dalam keadaan koma, SGOT dan SGPT nya tinggi. Power rangers merencanakan cuci darah untuknya. Namun belum sampai terlaksana, si istri telah pergi menghadapNya.


Innalillahi wainna ilaihi roji'un. 

Allahummaghfirlahum warhamhum. 

Allahummarzuqna husnul khotimah. 

Kullu nafsin dzaaiqotul mauut



*****


Tetiba ingin ku bersenandung nasyidnya Raihan ini;

🎼🎢🎡

Kehidupan Yang Kau Lalui Tiada Bererti

Namun Kau Masih Tak Menyedari

Bila Wajahmu Pucat Lesu Terbujur Kaku

Bimbang Hidup Kau Kan Berakhir

Tidakkah Kau Tahu Dia Yang Maha Kuasa

Masihkah Tak Mengerti

Tiada Hidup Tanpanya... Allah

Subhanaallah


Lalu Kau Pun Tunduk Membisu

Sejuta Ketakutan

Bayangkan Dosa Mu Bagai Lautan

Haraplah Diberi Peluang

Umur Yang Panjang

Kau Kan Jadi Hamba Yang Sejati


Allah Maha Pengasih

Allah Maha Pengampun

Kembalilah Kepada Fitrahmu

Allah Maha Pengasih

Allah Maha Pengampun

Sedarlah Kau Dari Kesilapan Mu


Lalu Kau Pun Sujud Mengaku

Hilang Keangkuhanmu

Cabutlah Noda Hitam Di Hatimu

Haraplah Di Beri Peluang

Beribadah Kembali

Kau Kan Jadi Hamba Yang Sejati


Engkau Pun Menyedari

Jangka Waktu Yang Di Beri

Kau Pun Sedari

Cintanya Yang Abadi


Allah Maha Pengasih

Allah Maha Pengampun

Kembalilah Kepada Fitrahmu


Allah Maha Pengasih

Allah Maha Pengampun

Cintai Ilahi

Cinta Yang Hakiki

Subhanaallah

🎼🎡🎢


Jika ia, kematian, datang. Aku tahu ia tak mengenal tempat, tak melihat waktu dan tak bisa dimengerti caranya. Untuk itu semua butuh persiapan. Butuh tabungan amal terbaik yang akan menjadi penolong.


Lima hari yang penuh dengan pelajaran berarti. Lima hari yang membuatku semakin mengerti. Mengharap semoga Allah masih memberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut hadirnya.


Yani si BuPer

08 Agustus 2021


Jumat, 30 Juli 2021

Keberanian untuk Mendapatkan Ketenangan

18.41 0

Mba Tari....

Semalam aku jelek banget. Tetiba dapat serangan karena Aritmiaku kambuh.


Masya Allah...

Hampir dua jam dalam suasana hujan membuat Mas Bojo dan ketiga anakku kalut.


Kasihan Mas Bojo harus ngurus aku yg BAB di tempat. 

Saat kutanya, “Baukah Bi?”. 

“Aman.... Gak kecium baunya.” ( 😁 anosmia beliau masih belum hilang).


Oksigen dan pijatan di antara jari jempol dan telunjuk seolah tak membantu. Mereka semua mengerumuniku, menghibur dan menyemangatiku. Namun meski oksigen sudah dialirkan dalam kondisi hampir full, rasanya aku bagaikan ikan yang terdampar di daratan.


Kucoba tersenyum dan menatap wajah mereka satu persatu. Dingin sekujur tubuhku dan menggigil sambil terus mengingat Allah. Kuminta mereka untuk membaca Al Matsurat bersama-sama. 


Di akhir pembacaan Al Matsurat putaran yang pertama, pertahanan anak bungsuku pun runtuh. Dia mulai meraung melihat kondisiku. Hal ini tetiba menyentak alam bawah sadarku. Aku harus bangkit!!!


Si sulung pun kuminta untuk membawa adiknya keluar agar lebih tenang. Mas Bojo dan si tengah terus menemaniku membaca dan menyimak Al Matsurat melalui YouTube yang dilantunkan suara merdu ustadz Hanan Ataki


Tepat di akhir putaran ketiga, seolah kehangatan mulai menyelimutiku. Terbata-bata aku mulai bisa berkata.


Yang pertama adalah kupanggil Si Bungsu yang sedang mengaji di luar kamar. Aku peluk dia dan kukatakan, kondisi seperti ini bukan pertama kali dialamiku sebagai seorang penyandang Aritmia. Kuceritakan kepada anak-anak tentang perjuanganku dulu saat melahirkan mereka, betapa Aritmia juga mampu meluluhlantakan kesadaranku saat di meja operasi. 


Selanjutnya mereka kembali mengerumuniku. Aku ucapkan terima kasih karena telah berjuang bersamaku.


Aku bilang ke Mas Bojo ingin bedrest selama beberapa hari. Kuinstruksikan untuk menghubungi ponakanku agar mensuplai pangan kami beberapa hari kedepan.


Mas Bojo pun menawari aku untuk ke rumah sakit. Namun aku enggan, berada di rumah sakit hanya akan membuat aku stress. Karena pasti aku akan terpisah dari mereka.


Kuminta Mas Bojo untuk menghubungi Pak Erwin, minta no dokter Ike agar keesokan kami bisa Konsul via telpon terkait kondisiku. Karena aku lebih nyaman di rumah, Pak Erwin pun menyarankan untuk melanjutkan istirahat ini di rumah.


Istirahat di rumah di kala sakit adalah pilihan kami sejak awal. Aku pun sudah siap dengan segala kondisi untuk pilihan ini. Jikalau Allah menginginkanku menghadap, maka aku ingin “pergi” saat berada di tengah-tengah anak dan suamiku.


Teringat kemarin pagi aku membuat desain poster seperti terlampir dalam gambar. Awalnya caption yang kupilih adalah FIGHT. Tapi aku pikir BRAVELY lebih menggambarkan kondisiku.





Jujurly aku memang penakut. Namun pesan Mas Bojo agar aku tak pernah takut terhadap masa depan yang beliau ucapkan saat meminangku dulu selalu menjadi booster.


Keberanianlah yang akan menghadirkan ketenangan. 


Di awal Mas Bojo menunjukkan gejala Covid memang aku pernah ketakutan. Takut bagiku hal manusiawi. Karena ketakutan bisa pula menjadi penanda bahwa kita mengimani ada yang lebih kuat dari kita.


Namun itulah kelemahan yang sering membuat psikosomatisku tambah parah. 


Seolah Dejavu...

Di awal terjangkit diantara berlima, aku hampir tak bergejala. Sehingga aku bisa merawat Mas Bojo, Da dan Dul yang gejalanya lebih kompleks. Entah bagaimana terlintas dalam pikiranku saat itu, kelak gejalaku akan muncul setelah mereka bertiga membaik dan Mas Bojolah yang akan merawatku secara intensif. Lintasan pikiran yang seharusnya tak ada dalam benakku πŸ˜₯. Karena bisa jadi saat itu terlintas, ada yang mengamini. Harusnya keep positive mind yang diperbanyak.


Mungkin “jelek” nya kondisiku semalam adalah akumulasi kecapekan dan ketakutan. Karena dua hal itulah yang sering memicu munculnya Aritmiaku.


Mba Tari...

Terimakasih telah membaca aliran rasaku. Ini kutulis setelah Subuh tadi aku kembali mendapatkan serangan yang dipicu karena aku ke kamar mandi karena hendak menunaikan Shalat Subuh. 


Do'akan supaya keberanian tak padam dalam semangatku. Agar ketenangan semakin menguat menelusup ke dalam jiwa ragaku.


Yani, si BuPer

31 Juli 2021



PS:  FYI punggung tanganku sekarang memar dan mati rasa πŸ˜πŸ˜ƒ


Gegara mereka terlalu keras memijat semalam. Soale semalam dipijat sekeras apapun gak kerasa 🀭


Bar itu emu kabeh πŸ˜πŸ€­πŸ˜ƒ

Senin, 26 Juli 2021

Isolasiku untuk Sehatmu

00.46 0



Tulisan ini bukan karena ingin seperti yang lain

Atau karena ingin biar eksis

Apalagi ditujukan untuk membuat keresahan 

Yang jelas ini bagian dari aliran rasa untuk meluapkan makna.


FYI … harusnya tanggal 23 Juli kemarin adalah hari dimana saatnya kami memperingati hari bersejarah di keluarga. Milad pernikahan yang ke 21. 


Qadarullah … di hari itu pula kami terpilih untuk bertemu dengan Covid 19 dan pasukannya. Bukti tanda cintaNya agar kami senantiasa mengingatNya. Sebuah pelajaran yang penuh arti. Penguat hometeam keluarga kami untuk lebih mengasihi. Kebetulan sampai saat ini kami masih full team di rumah. Dul dan Do yang sekiranya dijadwalkan harus kembali ke pondok, kembali tertunda karena adanya PPKM. Mungkin inilah rencana Allah yang mengharuskan kami saling memperhatikan dan melayani dengan sepenuh hati. Melewati masa isolasi mandiri bersama keluarga terkasih dalam ketenangan hati.


Berawal dari Mas Bojo yang mengeluh pusing dan sariawan di pagi hari. Malamnya tetiba beliau merasakan flu ringan. Saat itu aku sudah curiga, tak biasa ini. Terlebih di keluarga besar yang di kota semuanya sakit. Wallahu alam apakah Covid atau bukan karena mereka hanya bilang seluruh badan lemas. Sebelumnya, Mas Bojo sendiri setiap pulang kerja atau saat istirahat pasti mampir di rumah mereka. Namun husnudzon saja karena kebetulan ada tamu saudara yang kebetulan dokter. Jadi keluarga mereka pasti terkondisi. Qadarullah … tamu tersebut juga sakit.


Melihat kondisi Mas Bojo, aku langsung ambil tindakan mengisolasi beliau, pisah tidur, pisah alat makan dan meminimalkan kontak dengan beliau. Sebenarnya mulai curiga Mas Bojo mulai terinfeksi, namun perlu melihat gejala lebih lanjut. Sambil terus mengobservasi kondisi kuberikan obat pereda nyeri termasuk mengobati sariawannya.


Mungkin ada yang bertanya, kenapa gak langsung tes rapid atau SWAB?


Apakah takut dicovidne?


Nauzubillah tentu big no, kenapa harus takut? Namun setiap pihak pasti memiliki kesulitannya sendiri.


Dalam hal ini, setelah berdiskusi dengan Mas Bojo, kami ambil pertimbangan sebagai berikut; kami tinggal di puncak gunung. Sebenarnya aku sudah berusaha mencari layanan tes yang bisa kerumah tetapi ternyata memang kabupaten tempatku tinggal belum menyediakan. Satu-satunya ya harus ke Puskesmas atau ke kota.


Alasan kami menunda tes cukup sederhana, kami menghindari kontak dengan orang lain. Jadi kami tunggu gejala lanjutan sambil observasi. Bukan sok kuat atau sok tahu, melainkan karena aku pribadi sering berurusan dengan rumah sakit jadi tahu bagaimana harus ambil tindakan. Beberapa obat seperti parasetamol, obat flu dan multivitamin sudah tersedia di rumah. Alhamdulillah... itu cukup membuat hati tenang.


Dan akhirnya tepat di hari keempat aku mengisolasi Mas Bojo, Da, anak pertama mulai mengeluh pusing dan deman. Siangnya giliran Dul, si tengah, merasakan flu dan demam. Sore harinya Mas Bojo mengaku sudah mulai kehilangan indera penciuman. Langsung dalam semalam mereka bertiga isolasi di ruang tamu dan kamarku yang kebetulan berdekatan.


Fixed...

Aku harus lapor Bu Bidan, agar didaftarkan ikut tes SWAB sekeluarga di Puskesmas. Alhamdulillah ternyata ada jadwal di keesokan harinya. Langsung saat itu juga aku izin untuk tidak masuk kerja ke pimpinan kantor dan lapor ke pemangku masyarakat terkait kondisi terakhir kami. Termasuk mengkondisikan pakde (kakaknya suami) yang prinsip dan pandangannya tentang Covid jauh bertolak belakang dengan keluarga inti kami. Pakde ini tinggal satu rumah dengan kami.


Dengan pengakuanku, apapun penerimaan mereka, kami siap. Mungkin akan ada yang mengucilkan namun pasti ada pula yang meringankan beban kami. Mungkin akan ada yang membenci namun pasti akan ada yang berempati. Apalah penilaian manusia dibanding keinginan kami untuk ikhlas dan tetap tenang menerima ketentuanNya.


Biarlah aku dianggap membuat kericuhan dan keresahan di tengah warga. Karena sejatinya tujuanku hanya ingin menyadarkan masyarakat agar waspada. 


Covid itu nyata gaes…!!!

Dan satupun dari kita tak ada yang bakalan tahu kalau terpilih sebagai penyintas.


Ok.... Maafkan aku jika mengambil langkah ini tanpa berkonsultasi dengan para pemangku di desa. Bagiku ini soal fakta dan data yang tak bisa lagi direkayasa. Jadi aku tak ingin melapor jika kami sedang baik-baik saja.


Aku tahu, dalam hal ini semua pihak memiliki kesulitan masing-masing. Pengakuanku memang akan menambah merahnya data yang mungkin, sedemikian rupa sehingga, dijaga agar tidak membara. 


Tapi ini adalah ikhtiar, mengingat kami sekeluarga hampir semuanya mempunyai komorbid. Mas Bojo dan Dul punya riwayat Asma, aku sendiri menyandang Aritmia jantung sejak masih muda dulu.


Jikalau kami tidak melapor untuk mengikuti SWAB, tak menutup kemungkinan kami akan menjadi terlapor. Hanya dengan melapor maka kami merasa tenang. Kami berikhtiar mengisolasi diri adalah proses menjaga lingkungan dari merajalelanya Covid 19 dan pasukannya. Apapun hasilnya kami tunduk pada ketentuanNya karena apa yang baik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut Allah.


Terimakasih kepada beberapa pihak yang telah memaklumi kondisi kami dan terus memberikan do'a, support dan bantuan. Kami sadar kami tak bisa sendirian dalam mengatasi ujian ini. 



Pohon talok ini kelak adalah pohon bersejarah, tempat kami berkomunikasi dan berinteraksi dengan warga selama isoman.



Penyintas Covid bukan aib yang membuat malu.

Kini bangsaku semakin pilu. 

Isolasiku adalah demi untuk sehatmu. 

Ayo saling membahu agar cobaan ini segera berlalu.


Yani si BuPer

26 Juli 2021

Minggu, 25 Juli 2021

Tetap Waras (Saat Merawat Anggota Keluarga yang Sakit)

00.00 0

Jadi ibu itu harus “ngabehi” (melayani dengan sepenuh hati - bahasa Jawa). 

Kalau dirumah sebisa mungkin semua profesi harus “dilakoni" (dikerjakan - bhs Jawa).

Karena dengannya surga menanti.





Apalagi disaat ada anggota keluarga yang sakit, ibu sebisa mungkin harus tetap “waras” (lahir dan batin). Harus tetap cool dan solutif agar suasana rumah tetap kondusif.


Apalagi di tengah pandemi seperti ini, dimana fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan) telah berubah menjadi medan perang. Sedangkan saat ini, rumah adalah satu-satunya tempat yang paling aman dan membahagiakan bagi seluruh anggota keluarga. Pun dikala ada yang sedang sakit. 


Merawat anggota keluarga yang sakit memang effortnya luar biasa. Bahwa merawat anggota keluarga yang sakit itu dapat membuat tidak “waras”. Sangat melelahkan secara fisik dan emosi terkadang sampai tidak punya waktu, lupa, atau tidak mampu untuk memperhatikan kebutuhan diri sendiri.


Nah…

Gimana dong biar tetap waras?


Jadi gini bund...

Tips yang berupa aliran rasa ini BuPer tulis setelah beberapa hari ini merawat suami dan anak yang sedang sakit. Sebagai pengingat diri sendiri bahwa kewarasan itu harus menjadi harga mati. Kalau bermanfaat buatmu silahkan diambil;


πŸ‘‰ Yang pertama harus senantiasa meluruskan niat, mengikhlaskan diri, kalau bukan ibu yang merawat sendiri anggota keluarganya yang sakit, terus siapa lagi? 


Jangan lupa melangitkan do'a melalui sujud malam. Karena sakit adalah tanda cinta dari Allah. Oleh sebab itu hanya dengan mengadu kepadaNya dan pasrah akan segala ketentuanNya maka akan legalah segala sumbatan hati.


πŸ‘‰ Gak usah sok bisa mengobati keluarga yang sakit kalau gak punya pengetahuan medis. Bawa berobat dan dirumah terus observasi gejala yang timbul. Sediakan suplemen dan multivitamin serta obat untuk meredakan gejala. Segera hubungi Nakes (Tenaga Kesehatan) kenalan jika ada gejala yang mencurigakan dan ikuti sarannya. Cari teman yang solutif dan bukannya yang bikin panik.


πŸ‘‰ Hindari info yang bikin parno dan lebih banyak positive thinking agar tetap tenang dan bahagia. Kalau perlu belajar merubah mimik wajah. Agar si sakit juga merasa tenang jika melihat keteduhan di wajah ibu.


πŸ‘‰ Penting juga belajar masak yang baik dan benar dengan bahan yang halal dan thoyib agar bisa menutrisi keluarga. Karena ini penting untuk masa penyembuhan dan pemulihan mereka. 


Yang jelas, saat merawat mereka makanlah tiga kali sehari. Cari waktu yang tenang saat makan agar makanan terkunyah dengan baik. Kenyang itu akan sangat membuat bertenaga, apalagi jika nutrisinya terjaga. 


Sedia makanan ringan favorit akan lebih baik, karena itu akan menjadi booster. Misal selalu sedia beng-beng sekotak atau coklat buat minuman hangat itu sangat bermanfaat (itu sih BuPer 😁)


πŸ‘‰ Turunkan ego, apalagi jika yang dirawat adalah orang dewasa. Pemenuhi tuntutan si sakit dan buat dia tetap tenang dan bahagia tapi dengan tidak mengabaikan diri sendiri. Kuatkan bonding dan komunikasi dengan si sakit, bisa dengan guyon (bercanda - bhs Jawa) ringan. Atau ajak melakukan teknik sadar napas bersama-sama agar ketenangan menelusup ke relung dada.


Merawat orang dewasa itu harus lebih banyak sabarnya, yang penting harus bisa kompromi, soale kalau anak kecil yang sakit kan bisa digendong dan didekap didada agar ketenangan menyelimutinya. 

Lha kalau orang dewasa? 

Mosok kuat menggendongnya?


πŸ‘‰ Me time harus dilakukan lho. Terserah kegiatan apa yang mau dilakukan, cari yang paling membuat rileks. Boleh kok shopping, tapi lebih baik di market place online. Drakor atau drachin atau baca novel bisa juga lho dilakukan. Tentunya saat si sakit sedang tidur. 


Bisa juga sih, nobar film favorit bareng si sakit. Teknologi IT sekarang memudahkan untuk melakukan aktivitas bersama meski terpisah jarak dan tempat, misalnya nobar online via zoom/messenger/g.meet atau discord. 

Mayan kan ... sedikit rileks tentunya akan meningkatkan hormon dopamine.


πŸ‘‰ Lakukan pergerakan ringan untuk meregangkan otot tubuh dengan lari ditempat di halaman rumah atau senam ringan. Bisa juga sambil berjemur matahari. Kalau di halaman ketemu tukang bakso, bolehlah beli selain buat menyegarkan tubuh, barangkali itu juga rezekinya si pak tukang bakso. 


πŸ‘‰ Boleh ngebakso tapi ingat, tetap patuhi prokes ya...

Prokes itu harga mati buk, udah gak boleh ditawar, karena itu senjata yang paling mudah dan bersahabat di kantong. Bukan begitu?


Dan pastinya …

Saat ada anggota keluarga yang sakit, maka hometeam keluarga akan beraksi. Semua harus siap, karena ini adalah kondisi yang dipergilirkan. Hari ini merawat anggota keluarga yang sakit, esok jika sakit pasti akan dirawat oleh anggota keluarga yang sehat.


Yani si BuPer

25 Juli 2021


Jumat, 25 Juni 2021

RAPORT ORANG TUA

20.49 0

 πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£

  RAPORT

πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£


Satu semester telah berlalu. Kini saatnya untuk menerima raport. Sejatinya ketika anak-anak menerima raport hasil belajar di sekolah, maka ayah ibunya juga menerima raport, meski bukan dalam bentuk selembar kertas.


Raport bagi sebagian orang sangat berarti. Karena selembar kertas tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap kompetensi yang telah dilatih. Di zaman ini, semua profesi dan pekerjaan menuntut pelakunya untuk memiliki kompetensi.  Ada yang diwujudkan dalam selembar kertas [ _hasil sebuah assessment_ ] baru kemudian dapat diakui. Ada pula yang mendapatkan pengakuan berdasarkan kemanfaatan yang dihasilkannya. 


Pun demikian dengan perjalanan menjadi orang tua. Mungkin tak elok ketika anak menuntut agar orangtuanya mendapatkan raport dengan nilai maksimal sebagaimana milik orang tua temannya. Karena sejatinya menjadi anak, bukan soal bisa memilih dari keluarga mana dia dilahirkan. 


Namun orang tua akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat terkait "menjadi apakah anaknya kelak."  Untuk itu orang tua bisa terus berusaha meningkatkan dan memantaskan diri agar kelak saat terima raport memperoleh nilai optimal.


Setiap keluarga unik, tak mungkin bisa dinilai hanya dengan satu _assessment_ yang dipukul rata, sama untuk semua keluarga demi sebuah raport. Karena pelajaran kehidupan pasti berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. 


Bicara tentang raport, aku yakin, banyak yang akan terhenyak ketika ada  pembagian raport bagi orang tua. Kalau benar ada, niscaya akan banyak orang tua yang berlomba-lomba mengukir prestasi dalam mendidik anak. Yang hasilnya akan tertulis di raport demi menjadi kebanggaan anak-anaknya.


Raport oh raport...


Benar...

Kelak saat ada pembagian raport bagi orang tua, pasti semua akan meminta nilai terbaik untuk menunjukkan kompetensi yang dimiliki selama mendidik anak. Namun apakah permintaan akan nilai itu sudah sebanding dengan apa  yang sudah kita lakukan sebagai orang tua?


Adakah kemanfaatan bagi lingkungan telah terasakan selama orang tua membersamai anak?


Sebagai muslim, ada satu pertanyaan yang mengusikku, apakah sudah menghantarkan anak menjadi seorang yang mukallaf?


Aduh...

Tuh kan...

Aku jadi deg-degan melihat hasil raportku sebagai orang tua.


Wallahu alam


Yani, si BuPer




****

Animasi GIF diambil dari canva

Selasa, 15 Desember 2020

Going Extra Miles (dengan tertatih)

05.15 0

Idealnya seseorang yang mau meraih predikat produktif harus mampu bekerja lebih, penuh dedikasi dan perjuangan serta terus berlatih. Yup... itu idealnya.


Realitanya juga begitu, hanya orang-orang yang mau mengeluarkan effort lebih yang akan berhasil mencapai puncak kesuksesan. Mengerahkan segala daya upaya, atau bahasa kerennya berusaha agar menjadi best of the best gitu lho.


Produktif dan sukses itu serupa namun tak sama, namun bagi yang ingin menuju puncaknya, keduanya memiliki peta petunjuk yang sama. Untuk meraih keduanya memang perlu usaha lebih dibanding orang lain, kalau hanya ingin menjadi pribadi yang biasa, yaa cukup mengerjakan hal-hal yang biasa saja. Oleh karena itu, untuk menjadi pribadi yang produktif/sukses, kita harus melebihkan usaha, upaya, tekad, waktu, dan sebagainya dari orang lain.


Bagaimana dengan perjalananku di Bunda Produktif ini?


Hufft....

Bulan ini adalah bulan terhectic yang aku alami, sehingga fokus pun terbagi

Seharusnya aku tak boleh terpengaruh unsur luar dari seperti kesibukan di bulan ini agar mencapai target belajarku di kelas ini. Namun sulit kalau sudah berkaitan dengan waktu. Terlebih dengan posisiku yang bekerja di ranah publik (haiya...ngeles).


Menjadi pribadi yang produktif harus mempunyai prinsip dan pendirian yang teguh. Semuanya hanya akan terbentuk dalam diri masing-masing, bukan dari luar. Dirinya sendirilah yang mengatur dan menerima segala hal. Karena masing-masing pribadi berkuasa terhadap diri masing-masing, sehingga faktor luar tidak akan mempengaruhi diri. 


Bismillah ...

One bite a time, di saat berondongan pekerjaan yang menuntut fokus lebih seperti saat ini, seharusnya bukan menjadi penghalang. Beruntungnya aku memili anggota team dan leader yang sangat perhatian. Sehingga tantangan demi tantangan yang menghadang di kelas ini, InsyaAllah akan tertaklukkan seiring dengan semakin berkurangnya target pekerjaan di kantorku. Semangat!!!