Selasa, 15 Desember 2020

Going Extra Miles (dengan tertatih)

05.15 0

Idealnya seseorang yang mau meraih predikat produktif harus mampu bekerja lebih, penuh dedikasi dan perjuangan serta terus berlatih. Yup... itu idealnya.


Realitanya juga begitu, hanya orang-orang yang mau mengeluarkan effort lebih yang akan berhasil mencapai puncak kesuksesan. Mengerahkan segala daya upaya, atau bahasa kerennya berusaha agar menjadi best of the best gitu lho.


Produktif dan sukses itu serupa namun tak sama, namun bagi yang ingin menuju puncaknya, keduanya memiliki peta petunjuk yang sama. Untuk meraih keduanya memang perlu usaha lebih dibanding orang lain, kalau hanya ingin menjadi pribadi yang biasa, yaa cukup mengerjakan hal-hal yang biasa saja. Oleh karena itu, untuk menjadi pribadi yang produktif/sukses, kita harus melebihkan usaha, upaya, tekad, waktu, dan sebagainya dari orang lain.


Bagaimana dengan perjalananku di Bunda Produktif ini?


Hufft....

Bulan ini adalah bulan terhectic yang aku alami, sehingga fokus pun terbagi

Seharusnya aku tak boleh terpengaruh unsur luar dari seperti kesibukan di bulan ini agar mencapai target belajarku di kelas ini. Namun sulit kalau sudah berkaitan dengan waktu. Terlebih dengan posisiku yang bekerja di ranah publik (haiya...ngeles).


Menjadi pribadi yang produktif harus mempunyai prinsip dan pendirian yang teguh. Semuanya hanya akan terbentuk dalam diri masing-masing, bukan dari luar. Dirinya sendirilah yang mengatur dan menerima segala hal. Karena masing-masing pribadi berkuasa terhadap diri masing-masing, sehingga faktor luar tidak akan mempengaruhi diri. 


Bismillah ...

One bite a time, di saat berondongan pekerjaan yang menuntut fokus lebih seperti saat ini, seharusnya bukan menjadi penghalang. Beruntungnya aku memili anggota team dan leader yang sangat perhatian. Sehingga tantangan demi tantangan yang menghadang di kelas ini, InsyaAllah akan tertaklukkan seiring dengan semakin berkurangnya target pekerjaan di kantorku. Semangat!!!


Senin, 30 November 2020

Manuver Seorang Leader Demi Berjalannya Project Passion

16.52 0

 Judul asline sebenarnya bingung mau nulis apa, ha...ha...ha...


Tentang 4 E ya...

Aku adalah penganut kubu nurture jika sudah bicara soal bakat. kubu ini sangat menyakini bahwa sifat seseorang bisa berubah seiring dengan perubahan lingkungan dan pendidikan. Adalah John B. Watson yang mencetuskan teori ini. Aku yakin pengalaman mampu menuliskan segala pesan pada sifat dasar manusia. Layaknya sebuah kertas putih bersih, maka akan dapat tertulis dan tertuang warna yang indah seiring sejalan dengan bagaimana kerta itu dimanfaatkan. Proses dan pengalaman sangat mempengaruhi perubahan ini.


Halah gladrah, wong cuma disuruh menulis tentang apa yang dirasakan selama menjalani project passion, malah ke arah situ...he...he...


Jujurly dalam menjalani project passion ini pas banget, aku bisa memancarkan (shinning) 4 E yang selama ini berada terpendam dalam diriku. Hanya saja timeline projectnya yang terlalu cepat membuatku keteteran. Ditambah dengan tumpukan kerjaan akhir tahun kantor yang membuatku semakin tak berkutik.


Dari sini, aku baru sadar, bahwa selama ini aku baru menjalani pekerjaan, belum sepenuhnya menempuh profesi. Sangat berbeda sekali definisi pekerjaan dan profesi. Yang aku pahami pekerjaan itu dilakukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban demi menghasilkan nilai rupiah (produktif dalam sisi materi). Sedangkan profesi itu dijalani karena ada unsur 4 E nya tadi, easy, enjoy, excellent dan eran. 


Yah... terpaksa beberapa pekan ini aku skip kegiatan di Hexagon City kecuali yang wajib saja. Susah bagi waktunya dengan dunia nyata pren...(baca aktivitas publik yang sedang aku jalani). Ha...ha... jadi merasa sedikit hambar sih, hanya menggugurkan kewajiban tanpa menikmati permainan yang sedang berjalan di Hexagon City. Maafkan daku yang harus memprioritaskan beberapa pekerjaan kantor yang juga dikejar deadline.


Walhasil strategi menjalankan delegasi harus ditempuh. Alhamdulillah terbukti efektif. Beberapa tugas di Hexagon City dengan sukarela akhirnya dihandle oleh warga yang lain. Kunci utama keberhasilan pendelegasian ini adalah komunikasi, kepercayaan, dan kontrol. Aku bilang 3 K.


Gak mudah memang, namun sebuah teamwork bukan saja milik seorang leader. Bagiku leader adalah seseorang yang bertanggungjawab akan suksesnya sebuah team work dijalankan dengan membagikan porsi pekerjaan sesuai dengan kemmpuan anggota timnya. Bravo!!!



Kamis, 19 November 2020

Produktif dalam Berkomunitas

05.11 0

Mengelola komunitas itu tak bisa dijadikan pekerjaan sampingan. Tentu saja, karena sebuah komunitas terbentuk bukan hanya berdasarkan keinginan. Akan tetapi membangun komunitas itu harus direncanakan, dibangun, atau dimodifikasi untuk mencanangkan kehidupan yang berkelanjutan. Sehingga mengelola komunitas itu layaknya mengelola sebuah lembaga resmi. Harus ada yang bersedia menjadi full timer untuk mengelolanya.


Ilustrasi produktif dalam berkomunitas



Jadi menurutku, bergabung dalam sebuah komunitas itu tak cukup hanya berbekal satu kebutuhan yang sama. Menurutku agar para membernya betah bergabung dalam sebuah komunitas ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan para pengelola komunitas;

  1. Memenuhi kebutuhan membernya akan rasa aman, sehat, dan akhirnya bahagia,
  2. Menghargai kontribusi membernya dan memberikan apresiasi,
  3. Melindungi privasi membernya dengan mengedepankan kepentingan bersama,
  4. Peningkatan ekonomi dan kesempatan kerja agar kehidupan lebih bermanfaat.


Jika keempat hal tersebut terpenuhi, maka akan lahirlah sebuah komunitas yang berkelanjutan, dapat bertahan dari generasi ke generasi. Termasuk dengan sendirinya akan berkembang selaras dengan pola ideologi yang ditanamkan. Yah menanam, pas kali diksi yang dipilih ini, menanam itu sebuah proses menumbuhkembangkan, tidak hanya bertumbuh saja namun juga ada proses berkembang biak. Demikian pula sebuah komunitas yang berkelanjutan, harus mengusung sebuah ideologi dan memenuhi keempat aspek diatas.


Kemudian apa hubungannya produktivitas dalam berkomunitas?


Apalagi yang berkaitan dengan produktivitas diri, yuk kita coba uraikan....


Sebagian orang mungkin sudah menyepakati soal indikator produktif itu dapat dilihat dari output yang dihasilkan dibagi dengan waktu dan biaya. Sebenarnya menurutku indikator ini sangat kompleks. Nah, satu lagi,  kompleksitas dalam mengukur produktivitas diri, menurutku baru akan mencapai puncaknya bila menggunakan kuadran aktivitas sehari-hari.  Aku bahkan mendefinisi produktivitas dalam berkomunitas itu sesuatu yang sederhana dan  bersifat subyektif. Bergantung pada  pencapaian tujuan hidup dengan gaya komunikasi yang dibangun dalam berkomunitas itu sendiri.


Artinya kalau ada kesediaan member untuk berkorban habis-habisan demi mengelola komunitas itu luar biasa. Itu adalah pilihan sadar seseorang maka ia mempunyai otoritas untuk mengatakan saya sudah produktif dalam berkomunitas. Yang penting tentunya masing-masing pengelola dan member kemudian mampu menentukan definisi apa itu produktif bagi dirinya.  Bagi aku, produktif dalam berkomunitas baiknya dapat terpenuhi 2 indikator dasar berikut ini: menikmati proses (dimensi masa kini) dan kepuasan terhadap output (dimensi masa depan).  


Bagaimana soal kuadran aktivitas?


Yap... ini berkaitan dengan manajemen waktu seseorang. Berhasil mengelola komunitas mungkin bisa menjadi salah satu indikator produktivitas diri. Untuk itu, menurutku tak cukup jika hanya satu atau dua jam waktu sehari untuk mengelola sebuah komunitas. Butuh para pengelola yang full timer bagi sebuah komunitas agar menjadi sebuah komunitas yang berkelanjutan.


Senin, 09 November 2020

Perlunya Milestone Untuk Membentuk Habit Baru

05.34 0

Referensi dalam menulis jurnal ini adalah buku How to Master Your Habits karya ustadz Felix Y Siauw, belum khatam sih bacanya, tapi sudah mendapatkan beberapa insight. Kebingungan menghadapi timeline kelas Bunda Produktif dengan proses latihan habit akhirnya menuntunku untuk mencari lebih lanjut, sebenarnya apa sih hubungan antara habit dan milestone. Alamdulillah.... ilmu itu selalu datang disaat kebingungan melanda, yang penting tetap fokus pada solusi maka cahaya pencerah itu akan hadir. Oya jurnal ini kubuat untuk melengkapi jurnalku tentang Sinergi dalam Sebuah Team Work (Studi Habit 6 dari The Seven Habit - langsung klik ya)


Ada insight yang sama antara isi buku dan prosesku meraih predikat produktif di kelas ini. Isi buku ini tentang pola apa yang akan digunakan untuk membentuk habit, pola yang sudah terbukti ketika Ust Felix melatih habitnya untuk menjadi master di bidang dakwah.

Mapping Milestone Feducard Project
Mapping milestone Feducard Project, sebuah contoh dalam melatih habit


Jadi memang penting banget menetapkan milestonenya, karena ini adalah kerangka dasar, batasan waktu untuk berproses menjadi lebih produktif. Seperti gambar ilustrasi diatas, itu adalah milestone yang disepakati teman-teman tim Feducard Project. Inilah beberapa insight yang kudapatkan;


  • Seseorang akan lebih produktif dan dapat menguasai keahlian apapun yang diinginkan bila memang benar-benar menginginkannya, dengan cara membiasakan dan membentuk habit pada dirinya. Menjadikan yang luar biasa menjadi kebiasaan. (hal 21)
  • Sehebat apapun seseorang untuk merencanakan project, berpikir dan  beraktivitas untuk merelaisasikan dengan habitnya, maka sebenarnya dia tidak akan bisa ‘menipu’ habitnya. (hal 25)
  • Habit adalah hasil pengulangan suatu aktivitas dalam jangka waktu tertentu yang bertahap (milestone). Semakin banyak satu aktivitas diulang dalam jangka waktu yang lama, maka habit akan semakin kuat. Habit dibentuk dari practice (latihan) dan repetition(pengulangan) dalam rentang waktu tertentu. (hal 37)

Seiring dengan berjalannya Feducard Project ini aku memotivasi diri sendiri untuk tidak menghiraukan timeline kelas, namun tetap fokus dan bekerja untuk mewujudkan tujuan, maka seiring dengan berjalannya waktu karena ini adalah project passion akan dengan sendirinya terbentuk habit baru tersebut. Dengan syarat terus komitmen dan konsisten dengan pekerjaan plus membuat to do list harian berupa habit tracker.

Senin, 02 November 2020

Sinergi dalam Sebuah Team Work (Studi Habit 6 dari The Seven Habit)

16.32 0

Aku menulis jurnal ini setelah mengalami perenungan panjang. Banyak hal yang menari-nari di kepala, seakan-akan siap meloncat karena ritmenya berantakan. Yah... sebuah konsep baru terasa ingin masuk berjejalan pula ke dalamnya. Sehingga jurnalku ini terlambat dari baiasanya.


Ilustrasi The Seven Habit - Stephen R Covey
Ilustrasi The Seven Habit - Stephen R. Covey

Agak sulit memang mencari hubungan produktif - tim kerja - karakter - habit - project passion. Akhirnya memaksaku untuk berselancar di alam maya mencari inspirasi yang berujung pada buku 7 Habits for Highly Effective People dari om Stephen R. Covey. Duh ,,, kerasa bet kalau dulu baca buku ini gak khatam-khatam. Jadi menurut si om ini ada 7 habit yang efektif akan mempengaruhi sebuah produktivitas. 

Habit 1 – Proaktif

Habit 2 – Hidup Berdasarkan Visi

Habit 3 – Manajemen Waktu

Habit 4 – Berpikir Menang-menang

Habit 5 – Empathy

Habit 6 – Sinergi

Habit 7 – Mengasah Gergaji/Menggali Potensi


Pada gambar ilustrasi diatas aku dapat menganalogikan Seven Habit sebagai proses bertani, sebuah proses bertani diawali dengan pengolahan agar tanahnya yang subur adalah tanah kemandirian [kemenangan pribadi ]  . Tanah dalam pertanian sangatlah memegang peranan penting, karena kesuburan suatu tanaman sangatlah ditentukan oleh kondisi soil tanah tersebut. Bila tanahnya terlalu kering [ Ego/ over mandiri ] , maka tumbuhan akan kekurangan air dan akhirnya akan mati. Begitupun juga bila tanahnya terlalu gembur [ dependence / tergantung ] maka akan sulit pula tumbuhan tersebut berkembang karena tak ada dukungan yang kuat .


Kebiasaan berpikir menang-menang adalah bagaikan akar yang kuat dan sehat . Akar yang kuat dan sehat sangatlah menentukan perkembangan selanjutnya dari pohon tersebut . Sedangkan pohon yang sehat [ Habit 5 ] , akan menentukan juga kualitas dari buah yang akan dihasilkan [ Habit 6 ].


Jadi 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif pada dasarnya adalah sebuah kesatuan . Pendekatan yang menyeluruh dan tak bisa dipisah pisah kan. Sebagaimana yang dikatakan Om Covey, "anda tidak bisa memanen buahnya sebelum anda menanamnya."


Di jurnal kali ini aku akan fokus mempelajari habit 6 karena menurutku ini adalah tahapan yang paling tepat dalam mewujudkan tim kerja project passion. Sinergi menghendaki anggota tim untuk bekerja sama agar tercapai tujuan yang sama dengan lebih baik. 


Sebuah tim kerja tidak akan berhasil tanpa adanya habit ini. Aku contohkan saja dalam tim kerja yang sedang aku jalani sekarang. Mewujudkan project pembuatan kartu edukasi hanya akan dapat berjalan lancar jika masing-masing team mau berkontribusi. Edukasi itu sangat luas, masing-masing anggota tim memiliki keunikannya masing-masing. Satu produk tidak akan bisa hanya dikerjakan oleh satu orang, harus ada sinergi yang membutuhkan skill masing-masing personal. Aku ambil contoh satu produk, yakni produk kartu edukasi dengan tema pernikahan. Ada beberapa disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk membuat konten edukasinya. Keberadaan tim akan saling melngkapi, akan ada pembagian tugas dalam sebuah tim. Ada yang mengambil peran sebagai konsep design, ilustrator, konten dan yang paling penting harus ada role play sebelum produk tersebut diluncurkan. Nah ini tidak bisa diwujudkan tanpa kerja tim. 


Walau jujur dalam sebuah tim kerja pasti akan ada saja faktor penghambatnya. Inti dari sinergi adalah menghargai perbedaan. Tim kerja dapat bersinergi dengan baik apabila masing-masing personelnya mengetahui dan mengakui adanya perbedaan di antara mereka dan bahwa perbedaan itu sangat baik dalam kehidupan. seperti halnya pepatah yang menyatakan;


Perbedaan hadir karena adanya perbedaan sudut pandang dari masing-masing orang mengenai suatu kondisi. Hal ini sangat baik dalam menyelesaikan sebuah masalah.


Dari beberapa kali diskusi di tim, ada dua hal penting yang aku pikir itulah kunci terlahirnya sebuah sinergi; yakni komunikasi dan hubungan relasi yang baik. Komunikasi akan membuka hati dan jalan pikiran anggota tim untuk mewujudkan ide baru. Memang butuh waktu dan pengorbanan untuk mewujudkan komunikasi yang lancar di antara personel tim. Komunkasi yang baik akan melahirkan penghormatan atas semua ide dan pendapat yang disampaikan semua anggota tim. Hal ini sangat penting, komunikasi sinergi harus dicapai sehingga personel lebih kreatif, termasuk mampu menyelesaian hambatan yang dihadapi sebelum peluncuran produk. Jika komunikasi sinergi tercapai, maka akan terlahir kompromi (hubungan relasi) yang lebih baik.


Jadi apakah melatih habit sinergi itu baik? Tentu. 

Walaupun kecenderungan orang akan mau menang sendiri,  namun habit sinergi ini akan dapat dicapai apabila kita telah menerapkan habit-habit sebelumnya, mulai dari proaktif sampai dengan empati.


Next... aku akan menjurnal tentang  Perlunya Milestone Untuk Membentuk Habit Baru, stay tune

Senin, 26 Oktober 2020

Karakter Moral dan Kesuksesan Sebuah Team Work

07.18 0

Passion to Nation, asli Buper jan-jane kurang memahami maksudnya. Terlebih tugas kelas BunProd pekan ini adalah untuk mengenali karakter apa yang dimiliki untuk meyukseskan project passion di cohos kami.


Setelah bersemedi di malam Jum'at njuk lanjut semedi lagi di malam Sabtu, barulah Buper mengerti ternyata inti pelajaran di pekan ini adalah diminta untuk menganalisa tentang pengaruh karakter moral apa saja yang mempengaruhi sebuah team work. Duh... gamifikasi di kelas ini membuat Buper muter-muter dulu mencari apa sih definisi karakter itu njuk nyari apa sih karakter yang dibutuhkan untuk membangun teamwork yang sehat. Dapat tulisan menarik berjudul 15 Karakter Luar Biasa yang Harus Dimiliki oleh Sebuah Tim Kerja jadi perlu banyak belajar dan perlu lebih mengenal anggota tim Buper lebih lanjut. Soale posisiku adalah ketua tim di kelas ini. Menariknya lagi, di pekan ini aku dapat insight lagi untuk memperdalam ilmu tentang team work.


Sulit memang kalau harus langsung membuat tim solid dalam waktu 6 bulan. Apalagi ini adalah tim kerja yang notabene hanya mengandalkan pertemuan online. Pertemuan yang terbatas dan sulitnya komunikasi secara online menjadi sebuah kendala tersendiri. Terlebih di era sekarang ini, sangat sulit mempercayai semua yang berbau online. Bismillah sajalah, hitung-hitung ini adalah sarana untuk belajar membuat sebuah komunitas online yang produktif.


Bagiku team work itu bisa dianalogkan seperti sebuah proses pembuatan almari. Sebuah almari itu kan terdiri dari beberapa potong kayu, tidak akan jadi sebuah almari jika kayu-kayu itu tidak mengalami proses dipotong, dipalu, dipaku, dipasah, diukir atau di cat. Dan semua kayu harus siap mengalami semua proses itu. Dalam sebuah team work kayu itulah analog yang tepat untuk posisi anggota tim. Anggota tim harus siap untuk dipotong, dipaku dan lain sebagainya agar terbentuk almari yang cantik dan berfungsi dengan baik.


Dari beberapa diskusi dengan teman-teman, Buper semakin menyadari bahwa membuat tim yang solid itu benar-benar sulit. Banyak karakter yang membuat project kami tidak bisa berjalan. Satu diantaranya malah hampir membuat diskusi kami deadlock yakni faktor egois. Lebih lengkapnya nanti bisa dilihat dan dibaca di gambar yang terlampir di bawah ini. Satu catatan penting adalah agar kerja tim bisa berlanjut, maka harus membangun komunikasi yang efektif dengan tim. Jika FoE (Frame of Experience) dan FoR (Frame of Reference) belum sama, akan menyebabkan sikap cuek anggota tim bahkan bisa berujung ketidakpercayaan.

Contoh Mind Map Project Passion
Contoh Mind Map Project Passion

Selain itu Buper juga menangkap beberapa karakter yang bisa membuat sebuah kerja tim terjeda. Terlebih karena team work online, maka perbedaan waktu online itu bisa sangat-sangat menghambat. Perbedaan waktu ini sebenarnya bisa disiasati jika masing-masing tim mau konsisnten dengan tujuan yang ingin dicapai. Lagi-lagi masalah komunikasi juga mendasari hal ini.

Dari hasil diskusi, Buper menyadari bahwa setiap anggota tim itu unik. Dan mereka bisa berkembang sesuai dengan keunikan masing-masing sepanjang mereka memahami karakter yang menjadi kekuatannya. 

Mengenal Karakter Tim



Kalau menurut Buper, karena di pekan ini fokusnya mengembangkan team work, maka harus mencari kekuatan karakter yg dimiliki masing-masing anggota tim.

Dengan memakai strategi meninggikan gunung dan meratakan lembah agar tujuan project tercapai. Bukan saatnya lagi anggota timku mengambil satu karakter yang menjadi kelemahannya kemudian baru berjuang agar karakter itu melekat pada diri kita. 

Kalau justru mengambil karakter yang menjadi kelemahannya, aku khawatir justru akan menjadi faktor delay dalam mencapai tujuan tim. Oleh karenanya aku minta masing-masing memilih karakter yang menjadi kekuatannya dulu. Dan juga menyadari karakter mana yang menjadi kelemahannya

Setelah itu, baru bisa rumuskan sebuah strategi dengan analisa SWOT atau BMC dengan menggunakan kekuatan untuk mengatasi kelemahan. Mencari peluang untuk mengatasi ancaman dalam merealisasikan tujuan project.


Untuk itu;
 ♻️ Buper ambil karakter *trustworthiness* sebagai kekuatan.


Artinya menurut kamus adalah suatu keadaan atau kualitas pribadi yang dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Mau mengambil tanggungjawab atas kewajiban yang dibebankan untuk menyukseskan project


♻️ Kelemahan Buper adalah yang berkaitan dengan waktu, karena jujur termasuk orang plegmatis,  gak bisaan untuk menolak 😁. Walhasil karenanya sering berujung overlap job.

♻️ Sekarang Buper sedang berusaha menutupinya dengan banyak mendelegasikan tugas kepada orang yang dipercaya 🤭

Sangat penting untuk mengetahui kekuatan dan kelamahan semua anggota tim. Dengan begitu sebagai top manajemen kita bisa membuat sebuah perencanaan strategis agar tujuan tercapai. Seperti pemetaan yang Buper lakukan dengan analisa SWOT berikut ini

Contoh Matrik SWOT

Yah.... masih panjang jalan untuk merealisasikan project passion ini, semoga menjadi sebuah pintu pembuka menuju ranah produktif

Sabtu, 17 Oktober 2020

Membuat Kerangka Kerja dalam Sebuah Canvas Passion

04.47 0

Canvas?


Kali ini bukan sebuah media untuk menghasilkan karya. Namun Passion Canvas, sebuah strategi untuk menuju tahapan produktif. Strategi ini dimodifikasi dari konsep Bussines Model Canvas. Sebuah kerangka untuk mengembangkan strategi bisnis. Dengan Passion Canvas ini diharapkan mampu menyusun sebuah project yang dikembangkan dari sebuah passion.


Mengadopsi konsepnya BMC, maka Passion Canvas yang kubuat untuk menyelesaikan tugas Bunda Produktif ini juga mempunyai sembilan elemen dimana kesembilannya saling terkait. Yakni; tantangan, passion, hard skill, soft skill, solusi 1, solusi 2, ide, life stage passion dan project passion with co housing.Ya...  di Kelas Bunda Produktif ini, gamifikasi yang digunakan adalah membangun kota produktif. Kami para peserta dianalogkan sebagai warga kota yang tinggal di suatu cluster yang ditempatkan berdasarkan passion. Harapannya kelak dengan bertemu dan berkumpul dengan sesama warga yang memiliki passion yang sama, kami bisa berkomunitas, berjejaring dan mewujudkan satu project untuk membangun kota yang produktif.


Passion Canvas BuPer dalam Menuju Produktif


Menuju ranah produktif bagiku adalah suatu tahapan learning by doing. Bukan saatnya lagi untuk sekedar belajar dan mengumpulkan ilmu, namun sudah saatnya bergerak menelurkan sebuah karya. Kembali ke soal passion canva, berikut tahapan strategi yang aku gunakan untuk menyusunnya.


Tantangan

Aku memilih memulai menyusun ini dari tantangan yang ada di hadapan. Menyelesaikan tantangan akan membuat andrenalin meningkat. Bagiku hal ini sangat penting untuk mendukung suatu project agar berkelanjutan. Membuatku mantap untuk terus menguatkan komitmen dan konsistensi untuk menyelasaikannya. Tantangan yang kuhadapi saat ini adalah bagaimana cara membuat konten edukatif persuasif agar dapat digunakan untuk menyongsong era edu 4.0. Terlebih sebelumnya aku telah mendapatkan tantangan hidup di bidang komunikasi. Connecting the dot, aku merasa tantangan demi tantangan yang hadir dalam hidupku ini seperti sebuah puzzle yang harus diselesaikan. Sebagai seorang public figure, tantangan di bidang komunikasi membuatku berfikir tentang sebuah strategi untuk menyelesaikannya. Dan aku menemukan jawabannya dengan menggunakan passionku di bidang desain mampu dijadikan sebuah solusi. Ketertarikanku di dunia komunikasi visual seakan menghantarkanku menuju ranah produktivitas.


Passion

Tahap selanjutnya setelah membuat diagram aktivitas berdasarkan passion yang kumiliki adalah memilih satu diantaranya untuk dikembangkan di ranah produktif ini. Desain dan komunikasi adalah dua hal yang menjadi kekuatanku. Untuk itu aku memutuskan untuk menggunakannya dalam menyelesaikan tantangan ini. Dunia desain komunikasi visual memang identik dengan penggunaan media untuk berkomunikasi. Ketertarikanku pada dunia desain grafis akan menjadi pintu penghubung dengan elemen lain yang ada pada canvas ini.


Hard Skill

Tidak hanya sekedar mengisi kotak elemen pada canvas, untuk urusan desain grafis beberapa hard skill yang kumiliki akan menjadi kekuatan tersendiri. Beberapa software desain yang kukuasai InsyaAllah akan menguatkan potensi untuk menaklukkan tantangan


Soft Skill

Hard skill saja tidak cukup, ada beberapa soft skill yang kubutuhkan dalam menyelesaikan tantangan ini. Soft skill ini berkaitan dengan kecakapan dan kematangan dalam berfikir. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan sebuah project. Alhamdulillah pengalaman lapangan yang kuperoleh di dunia kerja cukup menjadi penguat untuk mewujudkan project ini menjadi nyata


Solusi 1 dan Solusi 2

Elemen selanjutnya yang kuisi adalah solusi apa yang bisa kulakukan untuk menaklukkan tantangan dengan menggunakan passion yang kumiliki. Dari hasil corat-coret dan penerawangan, aku melihat untuk menghasilkan konten edukatif yang berdampak di era 4.0 yang dibutuhkan adalah sebuah konten yang bermuatan persuasif dan memiliki tampilan 3 D.


Ide

Setelah mengetahui tantangan, passion, skill dan solusi yang bisa diambil. Tiba saatnya mengalirkan ide project apa yang bisa digulirkan. Berdasarkan pengalaman, untuk sebuah konten edukasi yang menarik dan dapat diterima semua segmen, aku memilih membuat produk desain berupa microblog. Microblog sangat efektif digunakan sebagai media edukasi yang komunikatif. Sebuah microblog selain memuat informasi yang edukatif juga diselipkan sebuah konten CTA (Call To Action). Microblog yang baik terdiri dari minimal 3 konten dan maksimal 10 konten informatif. Dibandingkan flyer, microblog lebih memungkinkan untuk memuat info lebih detil, termasuk infografis dan penjelasan singkatnya


Life Stage Passion

Ini ilmu baru yang kudapatkan. Menurut Bu Septi, tahapan pengembangan passion itu sebagai berikut;

1. Fundamental Life Stage

Ini tahapan mengkayakan diri dengan ilmu pengetahuan, pengalaman dan skill dengan banyak mencoba aktivitas. Muncul di usia 0 -20 tahun. Inilah yang sering disebut tahapan passion for knowledge


2. Forefront Life Stage

Di tahapan ini biasanya orientasinya sudah mengembangkan passion untuk bisnis. Sudah yakin dengan passionnya dan mulai berkarya. Biasanya muncul pada usia 20 - 40 tahun. Biasa dikenal pula sebagai tahap Passion for Busines


3. Foster Life Stage

Muncul di usia 40 -60 tahun. Di tahap ini rerata sudah mapan hidupnya sehingga orientasinya lebih banyak untuk mengembangkan sesuatu, mendorong orang berbagi dan melayani. Sehingga tahapan ini sering pula disebut sebgai tahap passion for service. Saat ini aku berada di tahap ini. Bagiku berbagi itu adalah sesuatu yang membuat mataku berbinar sehingga aku lebih suka mengembangkan passion untuk hal ini


4. Final Life Stage

Ini tahapan paripurna, dimana seseorang yang berada pada tahap ini lebih suka menggunakan passion agar bermanfaat untuk orang banyak


Tahapan demi tahapan life stage passion itu boleh tidak berurutan. Karena tak jarang beberpa orang baru menyadari passionnya setelah masa pensiun. Tak ada kata terlambat untuk memulai tahapan demi tahapan tersebut.  


*****


Setelah berembug bersama, tiba saatnya untuk membuat project passion bersama dengan tajuk passion to nation. Kesamaan passion di co housing akhirnya mengerucutkan ide bersama. Ini setelah mengalami brainstroming, mengambil benang merah dari ide semua warga di Co Housing. 


Dengan mengucap bismillah....

Kami sepakat untuk memproduksi kartu edukatif, dengan brand Feducard yang merupakan kepanjangan dari Fun Edukatif Card. Kartu produksi kami adalah salah satu solusi untuk menyediakan media pembelajaran yang inovatif dan interaktif.



Pengen tahu gimana bentuknya?

Stay tune ya...


Kamis, 08 Oktober 2020

Beda Social Building dan Social Bonding

05.42 0

Baru-baru ini daerahku memang kembali digemparkan dengan adanya peningkatan kasus covid19 comfort atau bertambahnya jumlah pasien penderita covid19. Di era New Normal memang semua aktivitas sudah kembali normal.  Padahal di balik itu masih ada ancaman covid19. 



Menurutku secara pribadi butuh peran komunitas sebagai sebuah pusat penguatan agar masyarakat tetap aware terhadap ancaman yang mungkin terjadi. Setiap elemen komunitas yang ada di masyarakat bisa mengambil peran dalam mengatasi ancaman pandemi Covid19 ini.

Bicara komunitas aku jadi ini keidean untuk membuat sebuah project sosial building atau social bonding untuk membantu sesamanya terutama yang tergabung dalam komunitas tersebut. 


Sosial building atau social bonding, mirip namun tak sama. Apa beda keduanya? Berikut ini perbedaan dua project tersebut dari kacamataku.


SOCIAL BUILDING

✔️ Berfokus pada perilaku dan efeknya pada pola fikir.

✔️ Membantu orang belajar bagaimana menumbuhkan empati dan kepedulian kepada orang lain.

✔️ Membangun keterampilan seperti komunikasi, perencanaan, pemecahan masalah dan resolusi konflik.

✔️ Mendorong perubahan perilaku jangka panjang.

✔️ Membantu orang membangun jejaring.

✔️ Dipraktekkan dengan jangka waktu.


SOCIAL BONDING

✔️ Fokus pada kegiatan yang menyenangkan.

✔️ Membawa orang bersama-sama dengan mendorong kolaborasi dan sinergi dalam berempati

✔️ Membantu orang melihat satu sama lain dalam sudut pandang berbeda.

✔️ Memungkinkan orang untuk terhubung, mau berbagi dalam satu ikatan yang kuat.

✔️ Kegiatan yang dapat dilakukan secara berulang-ulang.

✔️ Ada kepuasan batiniah saat project ini berhasil.


Masih butuh banyak referensi untuk merumuskan project ini. 

Maukah berbagi ide, agar project ini bisa real menjadi kenyataan?

Minggu, 04 Oktober 2020

Menilik Lebih Lanjut Gamifikasi Bunda Produktif

17.37 0

Aku sebenarnya berencana untuk tidak menulis jurnal ini karena jiwa harmoniku terusik sekali dengan adanya pemilu di Hexagon City.

Awalnya aku antusias sekali ikuti event pemilu di Hexagon City ini. Karena pemilu itu bagiku memang sebuah sarana untuk pendewasaan diri.  


Gambar form tempat memilih


Semakin kesini aku semakin melihat bahwa pemilu di Hexagon Siti itu bukan hanya untuk pendewasaan diri. Gamifikasi ini benar-benar mampu untuk mengaduk-aduk emosi para pemainnya. Hexagon City adalah sebuah gamifikasi yang sedang aku ikuti di kelas benda produktif. Salut sama Bu Septi yang sudah menciptakan gamifikasi ini.

Keren.... gamifikasi ini benar-benar mampu menyatukan antara bermain dan belajar. Sampai pemainnya nggak sadar, emosinya ikut larut dan seperti tampak nyata.


Terus apa hubungannya pemilu dengan produktivitas?


Yah... inilah yang harus dicari benang merahnya. Gamifikasi ini adalah gamifikasi kelas Bunda Produktif IIP. Merujuk arti kata produktif dalam KBBI artinya adalah:


1. kemampuan untuk menghasilkan, atau 


2. kemampuan untuk membeli hasil manfaat yang menguntungkan,


3. selain itu produktif juga berarti kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang bisa dipakai secara terus-menerus dan membentuk unsur yang baru 


Jadi jelas memang tujuan gamifikasi ini adalah untuk mengajak para pemainnya agar mampu menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Nah pemilu ini adalah salah satu analog yang keren yang  cocok dipakai di aplikasi ini.


Melihat para kandidatnya yang semuanya punya potensi dan memiliki visi misi yang luar biasa tampaknya game ini mampu mematik sisi lain agar member mau berbagi dan melayani. Hal itu sangat keren, apalagi ketika para kandidat itu mengumpulkan para timses dan membuat mereka ini mau mengambil peran di dalamnya.


Itu tadi sisi positif dari gamifikasi ini tetapi dalam sebuah gamifikasi tetap ada yang namanya sisi positif dan sisi negatif.


Sejauh ini aku belum melihat sisi negatifnya kecuali gamifikasi ini mampu membuat jiwa kompetisi member itu semakin muncul. Nggak salah sih berkompetisi itu karena itu fitrah manusia juga. 


Menurutku pemilu di Hexagon City ini tidak perlu ada timses tapi para kandidat itu akan dipilih melalui debat terbuka yang diselenggarakan oleh tim formula. Itu akan lebih baik karena keberadaan tim saat ini sering sekali justru memicu kericuhan. Di satu sisi memang adanya timses ini mampu mematik jiwa berbagi dan melayani. Tapi di sisi lain orientasi merekai hanya untuk memenangkan kandidat yang diusung. Ini yang perlu diwaspadai karena apa karena mereka lupa bahwa gamifikasi ini ada yang mengatur. Mereka juga tidak bisa membedakan antara realita dan gamifikasi. realitanya di Ibu profesional memang ada yang mengatur ada tim sekretaris regional ada jenjang jenjang perkuliahan yang lain.  


Tapi timses ini menganggap ketika kandidatnya itu menang maka itu akan membawa perubahan di seluruh regional. Padahal ini kan hanya gamifikasi. Berlkunya hanya di kelas Bunda Produktif. Kenyataannya ada yang mengatur regional dan seluruh jenjang perkuliahannya, termasuk aktivitas di dalamnya. Dan yang mengatur itu bukan Walikota Hexagon City.


Dibalik negatif dan positifnya aku tetap salut sama yang membuat gamifikasi ini. Keren .... memang sudah selayaknya belajar itu ya bermain, bermain itu ya belajar. 


Ayo ikut main!

Gunakan hak suaramu dengan bahagia ya

Kamis, 24 September 2020

Membangun Hexahouse (Baca: Sebuah Analog Membuat Perencanaan Menuju Tahapan Produktivitas)

23.29 0
Beberapa bulan kedepan, kembali blog ini akan terisi lagi. Tak lain dan tak bukan karena sudah mulai butuh mendokumentasikan insight yang kudapat karena mengikuti gamifikasi Bunda Produktif yang diadakan Institut Ibu Profesional. Namanya juga gamifikasi, jadi wajar kalau ada beberapa istilah baru nan asing yang sebenarnya hanya untuk memvisualisasikan suatu proses/tahapan selama game ini berlangsung. 

Ah.. belajar dengan platform gamifikasi itu sebenarnya ngeri-ngeri sedap. Ngerinya itu tuh kalau gak paham output yang diharapkan atau gak ngerti mau dibawa kemana sih kita selama proses belajar itu berlangsung, maka yang ada hanya capek dan menguras emosi. Sedapnya itu, kalau udah paham arah permainanya maka kita akan lebih enjoy dan merasa semakin tertantang untuk menyelesaikan tahap demi tahapnya.

Nah ... biar gak larut, aku akan jelaskan apaa sih gamifikasi yang sedang kuikuti ini. Namanya gamenya Membangun Kota Impian Hexagon City. Kalau aku pribadi, nangkapnya di game ini nanti outputnya adalah tentang team work. Bagaimana para pemain dapat meningkatkan produktivitas hidupnya dan kemudian berinteraksi dengan pemain lain agar terbangun sebuah peradaban baru dengan mengkombinasikan potensi yang dimiliki masing-masing komponen. Tak mungkin akan terbentuk sebuah peradaban baru tanpa networking bukan?

Hmmm....sepertinya asyik juga!

Mengawali game ini ada satu hal yang menggelitikku, yakni kami diminta membangun sebuah hexahouse. Hexahouse ini adalah sebuah analog. Iya tentu saja sebuah analog, maka jangan sampai terjebak euforianya. Mentang-mentang disuruh membangun rumah yang gue banget lantas membuat sebuah rumah impian yang indah tanpa merencanakananya dengan matang. Big NO buat aku tuh.

Wait.... boleh banget membuat impian macam itu, tapi mari kita kembali ke permainannya. 

Baik, karena di game ini masih tahapan "pembangunan rumah" maka aku perlu berfikir tentang produktivitas yang ingin kuraih dulu. Kan cocok tuh, namanya juga sedang dalam proses membangun , di game ini menurutku adalah sebuah penganalogian dari sebuah pembentukkan mindset untuk meraih produktivitas. Ih...mbulet ... semoga dipahami apa maksudku ya..

Jadi gini, proses merencanakan sebuah produktivitas bagiku itu sama artinya dengan proses membangun rumah. Gak bisa dong sebuah bangunan itu asal berdiri tapi akhirnya gak berfungsi alias mangkrak. Maka demikian pula sisi produktivitas itu, gak mungkin akan teraih tanpa adanya perencanaan yang efektif.

Banyak unsur yang harus dipertimbangkan dalam berdirinya sebuah rumah. Ada nilai moral, estetika, filosofi dan fungsi dalam membangun sebuah rumah. Rumit ya... Aku dulu sih ngertinya kalau membangun rumah itu harus punya RAB (Rencana Anggaran Biaya). Percuma punya rumah yang metereng dan bernilai estetika tinggi jika tidak bisa difungsikan bukan? Nah kalau rumah adat, kental sekali dengan filosofinya, maka hampir bisa dipastikan memiliki nilai moral dan fungsi yang kuat. Halah kok malah nggladrah ke rumah adat segala.

Bicara tentang game ini, tantangan pertamanya adalah merencanakan bangunan yang akan kutinggali yang disebut hexahouse. Inilah analog bahwa untuk menyelesaikan game ini aku harus membuat perencanaan menuju tahapan produktivitas. Coba aku urai dulu tahapan perencanaan yang harus aku lakukan ya

1. Membuat analisa SWOT

Di Bunda Cekatan yang lalu aku yang mempunyai tantangan di bidang komunikasi. Dari tantangan tersebut akhirnya menemukan sisi yang harus dikuatkan. Desain Komunikasi Visual, salah satu yang akan kukembangkan agar lebih produktif lagi. Pilihan ini terlahir setelah aku memahami passion kemudian mengetahui faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi. Inti dari analisa SWOT ini adalah membuat sebuah strategi agar kekuatan dapat menutupi kelemahan dan juga peluang bisa menutupi ancaman. 

2. Menetapkan tujuan dengan kaidah SMART

Nah beruntungnya aku, di game ini aku bisa menempuh 90 hari kedepan, alias 3 bulan untuk menetapkan dan menguji peningkatan produktivitas ini. Kaidah SMART ini sangat membantuku untuk memenuhi target dan tujuan. 

3. Evaluasi untuk mengukur kemajuan dan meninjaunya

Sering kali perencanaan hanya akan menjadi sebuah wacana tanpa adanya proses evaluasi ini. Sangat penting untuk selalu meninjau kinerja diri. Mengiring perencanaan ini, aku juga harus membuat sebuah catatan kemajuan yang dilakukan di dalam daftar perubahan produktivitas dan fokus pada hal-hal perbaikan selanjutnya. Hal ini akan membantuku untuk menilai kinerja. 


Hmmmm demikian perencaanku, kemudian kira-kira seperti apakah bangunan yang akan terbentuk nanti?



Kembali ke analog rumah, jika diibaratkan sebuah bangunan, maka sisi produktivitasku selaku seorang DKV Enthusiast di game ini, aku memilih untuk membangun Hexahouseku sebagai sebuah rumah produksi dengan brand Dapur Slide. Pemilihan brand ini sarat akan filosofi lho...

Komunikasi Visual itu adalah salah satu cabang ilmu komunikasi yang menitikberatkan pada penampilan pesan melalui obyek dengan mengkombinasikan seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi, dan warna dalam penyampaian pesan. 

Sebagai penyedia produk jasa, sudah sepantasnya aku membuat playgroundku menjadi sebuah tempat yang hangat dan interaktif. Dapur adalah tempat terhangat dalam sebuah bangunan rumah. Bukan karena didalamnya terdapat kompor yang menghasilkan api, namun berdasarkan pengamatanku, hampir di setiap rumah dapur adalah tempat yang ternyaman untuk menghadirkan sebuah komunikasi. Itu artinya Dapur adalah tempat interaksi yang bisa didatangi siapa saja. Pas kan dengan sisi produktivitas yang akan aku kembangkan di bidang seni desain grafis.

Dapur Slide adalah tempat terhangat dan interaktif bagi mereka yang membutuhkan jasa desain grafis. Kecuali menciptakan menu-menu desain, aku juga bersedia melayani mereka yang sudi datang kerumahku untuk belajar tentang desain ini. Untuk itu, aku sudah menyiapkan rencana pembangunannya dengan detail




Di benakku bagian front house akan aku sulap layaknya sebuah kantin. Selain berfungsi sebagai showroom galeri, letaknya yang berada di paling depan akan menarik perhatian para tamu yang berkunjung hexahouseku. Aku akan menyiapkan beberapa stel meja kursi yang bisa difungsikan sebagai meja peradaban. Tempat bertukar pikiran, karya dan rasa segala sesuatu yang berhubungan dengan desain komunikasi visual.



Selanjutnya jika pengunjung akan masuk lebih dalam, aku juga akan menyiapkan sebuah ruang workshop yang berjendela besar. Ruangan ini memiliki view pemandangan alam yang menyejukkan mata dan pikiran. Tempat yang paling tepat untuk meliarkan imajinasi agar terlahir sebuah karya desain yang memukau. Bagiku desain itu soal rasa. Masing-masing yang memanfaatkan ruangan ini memiliki karakter yang akan berkembang dan menemaniku sebagai seorang DKV enthusiast.



Jika lelah pengunjung dapat menginap di Dapur Slideku ini. Sudah aku sediakan beberapa kamar tamu dengan view pegunungan tempatku tinggal. Dengan menginap tamu yang berkunjung akan berkesempatan untuk melihat aktivitasku sehari-hari. Bagiku produktivitas itu bukan pencitraan, namun hadir seiring dengan bertambahnya jam terbang. Jadi dengan menginap di Dapur Slide itu akan sama nilainya dengan membeli jam terbang di dunia desain.



Selanjutnya ruangan terkahir yang bisa dikunjungi tamu adalah ruangan kerjaku. Tapi tak sembarang tamu kuijinkan untuk memasukinya. Hanya tamu dengan kriteria tertentu yang akan mendapatkan kesempatan untuk melihat ruang kerjaku. 

Jadi apakah Anda akan menjadi salah satu tamu yang beruntung itu?

Kita lihat nanti, aku Yani Hexagonia yang profuktif dan bahagia
Salam