Minggu, 08 Agustus 2021

Lima Hari Lima Kematian

03.09 0


Klunthing... Klunthing... Klunthing... Klunthing... Klunthing...


Banyak notif WA dan FB masuk ke HPku saat “tilik” online. Rerata semua mendo'akan dan memberikan semangat agar kami sekeluarga tak pantang menyerah untuk mendamaikan Mas Kopit dan Mba Aritmia (gangguan irama jantung) yang ada dalam tubuhku.


Seorang kolega mengirim pesan, “Wis to... Anggap sedang flu biasa saja."


Atau pesan dari masku yang mengatakan, “Kamu tu udah sering kena serangan mba Aritmia. Ra sah nggagas... Ngko mesti mari".


Atau mbakyuku yang setiap VC atau chat pasti bercerita lucu. 


Bahkan anakku membawakan headset saat hendak berangkat ke Hotel Putih. Katanya biar aku gak denger bisik-bisik tetangga. Karena begitulah, menginap di kamar isolasi itu los dol... 


Namun afirmasi dan headset, semua itu tak bisa memfilter backsound bangsal isolasi Hotel Putih yang tertangkap jelas oleh indera pendengaran ku.  Jangankan suara, penglihatan pun begitu. Alhamdulillah asuransi yang kami ikuti menempatkan aku di kelas 1. Mayan bed tempatku menginap tertutup oleh tirai biru yang meneduhkan mata.


Tapi tetap saja ketika anakku telpon pasti terdengar backsound bisik-bisik tetangga. Backsound yang tak bisa membuatku tidur pulas tanpa bantuan si Alprazolam.


Bicara tentang si Alprazolam, dialah yang paling berjasa membuat mba Aritmia dan Mas Kopit anteng sesaat. Nanti deh percakapan mereka aku tuturkan tersendiri.


Lima hari menginap di Hotel Putih dengan lima kali menyaksikan kematian cukup membekas dalam hatiku.


Oke ... 

Kalian bisa menganggap si Mas Kopit ini flu biasa, karena Mas Bojo dan anak-anakku yang juga diganggunya dapat segera pulih secara paripurna. 


Namun tidak dengan kami, para pejuang, yang menginap di bangsal isolasi Hotel Putih ini. Tak pandang usia, kami datang dengan bermacam-macam komorbid. Seperti aku datang bersama mba Aritmia yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan gagal jantung yang berujung kematian.


Lima hari aku menginap di bangsal ini, lima diantara kami, para pejuang tak mampu lagi meneruskan perjuangan….


Pejuang yang pertama mengakhiri perjuangan adalah seorang bapak-bapak. Sebenarnya beliau sudah menginap beberapa hari sebelumku. Kondisinya saat aku masuk masih memakai ventilator. Di antara para pejuang di bangsal ini, mungkin hanya aku seorang yang tidak mengenakan topeng udara itu. Alhamdulillah selama menginap, saturasiku stabil, di atas angka 96. Meski oxymeter kadang gak bisa cepat mendeteksi karena kecilnya jari jemari tanganku.


Malam sebelum sesebapak ini mengakhiri perjuangan, kudengar percakapannya dengan salah seorang power rangers (sebutanku untuk para perawat). Inti percakapannya kurang lebih mengatakan gula darah sesebapak itu tidak stabil. Jadi harus mengurangi beberapa makanan bekal dari rumah.


Sesebapak itu sangat emosi, istri yang setia menunggunya tak ayal menjadi sasaran kemarahannya. Begitu emosinya hingga berujung kepanikan yang membuatnya semakin sulit bernafas. Meski oksigen dalam ventilator dialirkan penuh ternyata tak bisa membuatnya bertahan. Beliau mengakhiri perjuangan dalam amarah di saat sang istri sedang di kamar mandi.


Yang kedua adalah kepergian seorang ibu yang sudah sepuh. Aku sendiri kurang paham kondisinya karena tempatnya menginap berseberangan denganku. Hanya yang kuingat adalah ucapan lirihnya untuk minta pulang yang diucapkan berkali-kali. Kutahu kepergiannya dari Mas Bojo.


Hari selanjutnya, samping ruangku kembali terisi. Seorang bapak yang baru pulang kampung dari merantau di luar pulau. Dengan diantar tetangganya, si Bapak menurutku sudah tidak baik. Mulai masuk selalu ingin melepas ventilatornya. Suaranya sudah putus-putus, ditingkahi suara oksigen yang keluar dari ventilator secara full membuatku sulit tidur. Dan Allah berkehendak, tak sampai satu malam, bapak itu berhenti berjuang.


Pejuang keempat yang tak bisa meneruskan perjuangan sangat memilukan. Sudah empat hari beliau berjuang bersamaku di bangsal ini. Kondisinya sudah cukup stabil, hanya gula darahnya yang belum stabil. Anak yang menungguinya setia memutarkan murotal untuk membuat si ibu tenang. Namun di tengah ketenangan, tetiba ibu itu mengalami kepanikan yang luar biasa. Teriakan Allahu Akbar tak pernah terputus dari lisannya. Suaranya yang keras cukup membuatku bergidik. Sebersit pertanyaan menghantaui pikiranku, seberapa sakit sebuah kematian?

Sehingga tak mampu membuat ibu itu bersabar?


Akhirnya ibu itu berhenti berjuang dalam kekalutan. Betapa terpukul anak yang telah berhari-hari mendampinginya berjuang. Aku baru kali ini mendengar seorang pemuda meraung-raung dengan kerasnya.


Hari kelima, ruang sebelahku kembali kedatangan seorang pejuang. Ibu muda dengan diantar suaminya, hampir tak ada suara yang keluar dari ruanganya. Saat Mas Bojo iseng menengok untuk memberi support kepada sang suami, ternyata si istri sudah dalam keadaan koma, SGOT dan SGPT nya tinggi. Power rangers merencanakan cuci darah untuknya. Namun belum sampai terlaksana, si istri telah pergi menghadapNya.


Innalillahi wainna ilaihi roji'un. 

Allahummaghfirlahum warhamhum. 

Allahummarzuqna husnul khotimah. 

Kullu nafsin dzaaiqotul mauut



*****


Tetiba ingin ku bersenandung nasyidnya Raihan ini;

🎼🎢🎡

Kehidupan Yang Kau Lalui Tiada Bererti

Namun Kau Masih Tak Menyedari

Bila Wajahmu Pucat Lesu Terbujur Kaku

Bimbang Hidup Kau Kan Berakhir

Tidakkah Kau Tahu Dia Yang Maha Kuasa

Masihkah Tak Mengerti

Tiada Hidup Tanpanya... Allah

Subhanaallah


Lalu Kau Pun Tunduk Membisu

Sejuta Ketakutan

Bayangkan Dosa Mu Bagai Lautan

Haraplah Diberi Peluang

Umur Yang Panjang

Kau Kan Jadi Hamba Yang Sejati


Allah Maha Pengasih

Allah Maha Pengampun

Kembalilah Kepada Fitrahmu

Allah Maha Pengasih

Allah Maha Pengampun

Sedarlah Kau Dari Kesilapan Mu


Lalu Kau Pun Sujud Mengaku

Hilang Keangkuhanmu

Cabutlah Noda Hitam Di Hatimu

Haraplah Di Beri Peluang

Beribadah Kembali

Kau Kan Jadi Hamba Yang Sejati


Engkau Pun Menyedari

Jangka Waktu Yang Di Beri

Kau Pun Sedari

Cintanya Yang Abadi


Allah Maha Pengasih

Allah Maha Pengampun

Kembalilah Kepada Fitrahmu


Allah Maha Pengasih

Allah Maha Pengampun

Cintai Ilahi

Cinta Yang Hakiki

Subhanaallah

🎼🎡🎢


Jika ia, kematian, datang. Aku tahu ia tak mengenal tempat, tak melihat waktu dan tak bisa dimengerti caranya. Untuk itu semua butuh persiapan. Butuh tabungan amal terbaik yang akan menjadi penolong.


Lima hari yang penuh dengan pelajaran berarti. Lima hari yang membuatku semakin mengerti. Mengharap semoga Allah masih memberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut hadirnya.


Yani si BuPer

08 Agustus 2021


Jumat, 30 Juli 2021

Keberanian untuk Mendapatkan Ketenangan

18.41 0

Mba Tari....

Semalam aku jelek banget. Tetiba dapat serangan karena Aritmiaku kambuh.


Masya Allah...

Hampir dua jam dalam suasana hujan membuat Mas Bojo dan ketiga anakku kalut.


Kasihan Mas Bojo harus ngurus aku yg BAB di tempat. 

Saat kutanya, “Baukah Bi?”. 

“Aman.... Gak kecium baunya.” ( 😁 anosmia beliau masih belum hilang).


Oksigen dan pijatan di antara jari jempol dan telunjuk seolah tak membantu. Mereka semua mengerumuniku, menghibur dan menyemangatiku. Namun meski oksigen sudah dialirkan dalam kondisi hampir full, rasanya aku bagaikan ikan yang terdampar di daratan.


Kucoba tersenyum dan menatap wajah mereka satu persatu. Dingin sekujur tubuhku dan menggigil sambil terus mengingat Allah. Kuminta mereka untuk membaca Al Matsurat bersama-sama. 


Di akhir pembacaan Al Matsurat putaran yang pertama, pertahanan anak bungsuku pun runtuh. Dia mulai meraung melihat kondisiku. Hal ini tetiba menyentak alam bawah sadarku. Aku harus bangkit!!!


Si sulung pun kuminta untuk membawa adiknya keluar agar lebih tenang. Mas Bojo dan si tengah terus menemaniku membaca dan menyimak Al Matsurat melalui YouTube yang dilantunkan suara merdu ustadz Hanan Ataki


Tepat di akhir putaran ketiga, seolah kehangatan mulai menyelimutiku. Terbata-bata aku mulai bisa berkata.


Yang pertama adalah kupanggil Si Bungsu yang sedang mengaji di luar kamar. Aku peluk dia dan kukatakan, kondisi seperti ini bukan pertama kali dialamiku sebagai seorang penyandang Aritmia. Kuceritakan kepada anak-anak tentang perjuanganku dulu saat melahirkan mereka, betapa Aritmia juga mampu meluluhlantakan kesadaranku saat di meja operasi. 


Selanjutnya mereka kembali mengerumuniku. Aku ucapkan terima kasih karena telah berjuang bersamaku.


Aku bilang ke Mas Bojo ingin bedrest selama beberapa hari. Kuinstruksikan untuk menghubungi ponakanku agar mensuplai pangan kami beberapa hari kedepan.


Mas Bojo pun menawari aku untuk ke rumah sakit. Namun aku enggan, berada di rumah sakit hanya akan membuat aku stress. Karena pasti aku akan terpisah dari mereka.


Kuminta Mas Bojo untuk menghubungi Pak Erwin, minta no dokter Ike agar keesokan kami bisa Konsul via telpon terkait kondisiku. Karena aku lebih nyaman di rumah, Pak Erwin pun menyarankan untuk melanjutkan istirahat ini di rumah.


Istirahat di rumah di kala sakit adalah pilihan kami sejak awal. Aku pun sudah siap dengan segala kondisi untuk pilihan ini. Jikalau Allah menginginkanku menghadap, maka aku ingin “pergi” saat berada di tengah-tengah anak dan suamiku.


Teringat kemarin pagi aku membuat desain poster seperti terlampir dalam gambar. Awalnya caption yang kupilih adalah FIGHT. Tapi aku pikir BRAVELY lebih menggambarkan kondisiku.





Jujurly aku memang penakut. Namun pesan Mas Bojo agar aku tak pernah takut terhadap masa depan yang beliau ucapkan saat meminangku dulu selalu menjadi booster.


Keberanianlah yang akan menghadirkan ketenangan. 


Di awal Mas Bojo menunjukkan gejala Covid memang aku pernah ketakutan. Takut bagiku hal manusiawi. Karena ketakutan bisa pula menjadi penanda bahwa kita mengimani ada yang lebih kuat dari kita.


Namun itulah kelemahan yang sering membuat psikosomatisku tambah parah. 


Seolah Dejavu...

Di awal terjangkit diantara berlima, aku hampir tak bergejala. Sehingga aku bisa merawat Mas Bojo, Da dan Dul yang gejalanya lebih kompleks. Entah bagaimana terlintas dalam pikiranku saat itu, kelak gejalaku akan muncul setelah mereka bertiga membaik dan Mas Bojolah yang akan merawatku secara intensif. Lintasan pikiran yang seharusnya tak ada dalam benakku πŸ˜₯. Karena bisa jadi saat itu terlintas, ada yang mengamini. Harusnya keep positive mind yang diperbanyak.


Mungkin “jelek” nya kondisiku semalam adalah akumulasi kecapekan dan ketakutan. Karena dua hal itulah yang sering memicu munculnya Aritmiaku.


Mba Tari...

Terimakasih telah membaca aliran rasaku. Ini kutulis setelah Subuh tadi aku kembali mendapatkan serangan yang dipicu karena aku ke kamar mandi karena hendak menunaikan Shalat Subuh. 


Do'akan supaya keberanian tak padam dalam semangatku. Agar ketenangan semakin menguat menelusup ke dalam jiwa ragaku.


Yani, si BuPer

31 Juli 2021



PS:  FYI punggung tanganku sekarang memar dan mati rasa πŸ˜πŸ˜ƒ


Gegara mereka terlalu keras memijat semalam. Soale semalam dipijat sekeras apapun gak kerasa 🀭


Bar itu emu kabeh πŸ˜πŸ€­πŸ˜ƒ

Senin, 26 Juli 2021

Isolasiku untuk Sehatmu

00.46 0



Tulisan ini bukan karena ingin seperti yang lain

Atau karena ingin biar eksis

Apalagi ditujukan untuk membuat keresahan 

Yang jelas ini bagian dari aliran rasa untuk meluapkan makna.


FYI … harusnya tanggal 23 Juli kemarin adalah hari dimana saatnya kami memperingati hari bersejarah di keluarga. Milad pernikahan yang ke 21. 


Qadarullah … di hari itu pula kami terpilih untuk bertemu dengan Covid 19 dan pasukannya. Bukti tanda cintaNya agar kami senantiasa mengingatNya. Sebuah pelajaran yang penuh arti. Penguat hometeam keluarga kami untuk lebih mengasihi. Kebetulan sampai saat ini kami masih full team di rumah. Dul dan Do yang sekiranya dijadwalkan harus kembali ke pondok, kembali tertunda karena adanya PPKM. Mungkin inilah rencana Allah yang mengharuskan kami saling memperhatikan dan melayani dengan sepenuh hati. Melewati masa isolasi mandiri bersama keluarga terkasih dalam ketenangan hati.


Berawal dari Mas Bojo yang mengeluh pusing dan sariawan di pagi hari. Malamnya tetiba beliau merasakan flu ringan. Saat itu aku sudah curiga, tak biasa ini. Terlebih di keluarga besar yang di kota semuanya sakit. Wallahu alam apakah Covid atau bukan karena mereka hanya bilang seluruh badan lemas. Sebelumnya, Mas Bojo sendiri setiap pulang kerja atau saat istirahat pasti mampir di rumah mereka. Namun husnudzon saja karena kebetulan ada tamu saudara yang kebetulan dokter. Jadi keluarga mereka pasti terkondisi. Qadarullah … tamu tersebut juga sakit.


Melihat kondisi Mas Bojo, aku langsung ambil tindakan mengisolasi beliau, pisah tidur, pisah alat makan dan meminimalkan kontak dengan beliau. Sebenarnya mulai curiga Mas Bojo mulai terinfeksi, namun perlu melihat gejala lebih lanjut. Sambil terus mengobservasi kondisi kuberikan obat pereda nyeri termasuk mengobati sariawannya.


Mungkin ada yang bertanya, kenapa gak langsung tes rapid atau SWAB?


Apakah takut dicovidne?


Nauzubillah tentu big no, kenapa harus takut? Namun setiap pihak pasti memiliki kesulitannya sendiri.


Dalam hal ini, setelah berdiskusi dengan Mas Bojo, kami ambil pertimbangan sebagai berikut; kami tinggal di puncak gunung. Sebenarnya aku sudah berusaha mencari layanan tes yang bisa kerumah tetapi ternyata memang kabupaten tempatku tinggal belum menyediakan. Satu-satunya ya harus ke Puskesmas atau ke kota.


Alasan kami menunda tes cukup sederhana, kami menghindari kontak dengan orang lain. Jadi kami tunggu gejala lanjutan sambil observasi. Bukan sok kuat atau sok tahu, melainkan karena aku pribadi sering berurusan dengan rumah sakit jadi tahu bagaimana harus ambil tindakan. Beberapa obat seperti parasetamol, obat flu dan multivitamin sudah tersedia di rumah. Alhamdulillah... itu cukup membuat hati tenang.


Dan akhirnya tepat di hari keempat aku mengisolasi Mas Bojo, Da, anak pertama mulai mengeluh pusing dan deman. Siangnya giliran Dul, si tengah, merasakan flu dan demam. Sore harinya Mas Bojo mengaku sudah mulai kehilangan indera penciuman. Langsung dalam semalam mereka bertiga isolasi di ruang tamu dan kamarku yang kebetulan berdekatan.


Fixed...

Aku harus lapor Bu Bidan, agar didaftarkan ikut tes SWAB sekeluarga di Puskesmas. Alhamdulillah ternyata ada jadwal di keesokan harinya. Langsung saat itu juga aku izin untuk tidak masuk kerja ke pimpinan kantor dan lapor ke pemangku masyarakat terkait kondisi terakhir kami. Termasuk mengkondisikan pakde (kakaknya suami) yang prinsip dan pandangannya tentang Covid jauh bertolak belakang dengan keluarga inti kami. Pakde ini tinggal satu rumah dengan kami.


Dengan pengakuanku, apapun penerimaan mereka, kami siap. Mungkin akan ada yang mengucilkan namun pasti ada pula yang meringankan beban kami. Mungkin akan ada yang membenci namun pasti akan ada yang berempati. Apalah penilaian manusia dibanding keinginan kami untuk ikhlas dan tetap tenang menerima ketentuanNya.


Biarlah aku dianggap membuat kericuhan dan keresahan di tengah warga. Karena sejatinya tujuanku hanya ingin menyadarkan masyarakat agar waspada. 


Covid itu nyata gaes…!!!

Dan satupun dari kita tak ada yang bakalan tahu kalau terpilih sebagai penyintas.


Ok.... Maafkan aku jika mengambil langkah ini tanpa berkonsultasi dengan para pemangku di desa. Bagiku ini soal fakta dan data yang tak bisa lagi direkayasa. Jadi aku tak ingin melapor jika kami sedang baik-baik saja.


Aku tahu, dalam hal ini semua pihak memiliki kesulitan masing-masing. Pengakuanku memang akan menambah merahnya data yang mungkin, sedemikian rupa sehingga, dijaga agar tidak membara. 


Tapi ini adalah ikhtiar, mengingat kami sekeluarga hampir semuanya mempunyai komorbid. Mas Bojo dan Dul punya riwayat Asma, aku sendiri menyandang Aritmia jantung sejak masih muda dulu.


Jikalau kami tidak melapor untuk mengikuti SWAB, tak menutup kemungkinan kami akan menjadi terlapor. Hanya dengan melapor maka kami merasa tenang. Kami berikhtiar mengisolasi diri adalah proses menjaga lingkungan dari merajalelanya Covid 19 dan pasukannya. Apapun hasilnya kami tunduk pada ketentuanNya karena apa yang baik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut Allah.


Terimakasih kepada beberapa pihak yang telah memaklumi kondisi kami dan terus memberikan do'a, support dan bantuan. Kami sadar kami tak bisa sendirian dalam mengatasi ujian ini. 



Pohon talok ini kelak adalah pohon bersejarah, tempat kami berkomunikasi dan berinteraksi dengan warga selama isoman.



Penyintas Covid bukan aib yang membuat malu.

Kini bangsaku semakin pilu. 

Isolasiku adalah demi untuk sehatmu. 

Ayo saling membahu agar cobaan ini segera berlalu.


Yani si BuPer

26 Juli 2021

Minggu, 25 Juli 2021

Tetap Waras (Saat Merawat Anggota Keluarga yang Sakit)

00.00 0

Jadi ibu itu harus “ngabehi” (melayani dengan sepenuh hati - bahasa Jawa). 

Kalau dirumah sebisa mungkin semua profesi harus “dilakoni" (dikerjakan - bhs Jawa).

Karena dengannya surga menanti.





Apalagi disaat ada anggota keluarga yang sakit, ibu sebisa mungkin harus tetap “waras” (lahir dan batin). Harus tetap cool dan solutif agar suasana rumah tetap kondusif.


Apalagi di tengah pandemi seperti ini, dimana fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan) telah berubah menjadi medan perang. Sedangkan saat ini, rumah adalah satu-satunya tempat yang paling aman dan membahagiakan bagi seluruh anggota keluarga. Pun dikala ada yang sedang sakit. 


Merawat anggota keluarga yang sakit memang effortnya luar biasa. Bahwa merawat anggota keluarga yang sakit itu dapat membuat tidak “waras”. Sangat melelahkan secara fisik dan emosi terkadang sampai tidak punya waktu, lupa, atau tidak mampu untuk memperhatikan kebutuhan diri sendiri.


Nah…

Gimana dong biar tetap waras?


Jadi gini bund...

Tips yang berupa aliran rasa ini BuPer tulis setelah beberapa hari ini merawat suami dan anak yang sedang sakit. Sebagai pengingat diri sendiri bahwa kewarasan itu harus menjadi harga mati. Kalau bermanfaat buatmu silahkan diambil;


πŸ‘‰ Yang pertama harus senantiasa meluruskan niat, mengikhlaskan diri, kalau bukan ibu yang merawat sendiri anggota keluarganya yang sakit, terus siapa lagi? 


Jangan lupa melangitkan do'a melalui sujud malam. Karena sakit adalah tanda cinta dari Allah. Oleh sebab itu hanya dengan mengadu kepadaNya dan pasrah akan segala ketentuanNya maka akan legalah segala sumbatan hati.


πŸ‘‰ Gak usah sok bisa mengobati keluarga yang sakit kalau gak punya pengetahuan medis. Bawa berobat dan dirumah terus observasi gejala yang timbul. Sediakan suplemen dan multivitamin serta obat untuk meredakan gejala. Segera hubungi Nakes (Tenaga Kesehatan) kenalan jika ada gejala yang mencurigakan dan ikuti sarannya. Cari teman yang solutif dan bukannya yang bikin panik.


πŸ‘‰ Hindari info yang bikin parno dan lebih banyak positive thinking agar tetap tenang dan bahagia. Kalau perlu belajar merubah mimik wajah. Agar si sakit juga merasa tenang jika melihat keteduhan di wajah ibu.


πŸ‘‰ Penting juga belajar masak yang baik dan benar dengan bahan yang halal dan thoyib agar bisa menutrisi keluarga. Karena ini penting untuk masa penyembuhan dan pemulihan mereka. 


Yang jelas, saat merawat mereka makanlah tiga kali sehari. Cari waktu yang tenang saat makan agar makanan terkunyah dengan baik. Kenyang itu akan sangat membuat bertenaga, apalagi jika nutrisinya terjaga. 


Sedia makanan ringan favorit akan lebih baik, karena itu akan menjadi booster. Misal selalu sedia beng-beng sekotak atau coklat buat minuman hangat itu sangat bermanfaat (itu sih BuPer 😁)


πŸ‘‰ Turunkan ego, apalagi jika yang dirawat adalah orang dewasa. Pemenuhi tuntutan si sakit dan buat dia tetap tenang dan bahagia tapi dengan tidak mengabaikan diri sendiri. Kuatkan bonding dan komunikasi dengan si sakit, bisa dengan guyon (bercanda - bhs Jawa) ringan. Atau ajak melakukan teknik sadar napas bersama-sama agar ketenangan menelusup ke relung dada.


Merawat orang dewasa itu harus lebih banyak sabarnya, yang penting harus bisa kompromi, soale kalau anak kecil yang sakit kan bisa digendong dan didekap didada agar ketenangan menyelimutinya. 

Lha kalau orang dewasa? 

Mosok kuat menggendongnya?


πŸ‘‰ Me time harus dilakukan lho. Terserah kegiatan apa yang mau dilakukan, cari yang paling membuat rileks. Boleh kok shopping, tapi lebih baik di market place online. Drakor atau drachin atau baca novel bisa juga lho dilakukan. Tentunya saat si sakit sedang tidur. 


Bisa juga sih, nobar film favorit bareng si sakit. Teknologi IT sekarang memudahkan untuk melakukan aktivitas bersama meski terpisah jarak dan tempat, misalnya nobar online via zoom/messenger/g.meet atau discord. 

Mayan kan ... sedikit rileks tentunya akan meningkatkan hormon dopamine.


πŸ‘‰ Lakukan pergerakan ringan untuk meregangkan otot tubuh dengan lari ditempat di halaman rumah atau senam ringan. Bisa juga sambil berjemur matahari. Kalau di halaman ketemu tukang bakso, bolehlah beli selain buat menyegarkan tubuh, barangkali itu juga rezekinya si pak tukang bakso. 


πŸ‘‰ Boleh ngebakso tapi ingat, tetap patuhi prokes ya...

Prokes itu harga mati buk, udah gak boleh ditawar, karena itu senjata yang paling mudah dan bersahabat di kantong. Bukan begitu?


Dan pastinya …

Saat ada anggota keluarga yang sakit, maka hometeam keluarga akan beraksi. Semua harus siap, karena ini adalah kondisi yang dipergilirkan. Hari ini merawat anggota keluarga yang sakit, esok jika sakit pasti akan dirawat oleh anggota keluarga yang sehat.


Yani si BuPer

25 Juli 2021


Jumat, 25 Juni 2021

RAPORT ORANG TUA

20.49 0

 πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£

  RAPORT

πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£


Satu semester telah berlalu. Kini saatnya untuk menerima raport. Sejatinya ketika anak-anak menerima raport hasil belajar di sekolah, maka ayah ibunya juga menerima raport, meski bukan dalam bentuk selembar kertas.


Raport bagi sebagian orang sangat berarti. Karena selembar kertas tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap kompetensi yang telah dilatih. Di zaman ini, semua profesi dan pekerjaan menuntut pelakunya untuk memiliki kompetensi.  Ada yang diwujudkan dalam selembar kertas [ _hasil sebuah assessment_ ] baru kemudian dapat diakui. Ada pula yang mendapatkan pengakuan berdasarkan kemanfaatan yang dihasilkannya. 


Pun demikian dengan perjalanan menjadi orang tua. Mungkin tak elok ketika anak menuntut agar orangtuanya mendapatkan raport dengan nilai maksimal sebagaimana milik orang tua temannya. Karena sejatinya menjadi anak, bukan soal bisa memilih dari keluarga mana dia dilahirkan. 


Namun orang tua akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat terkait "menjadi apakah anaknya kelak."  Untuk itu orang tua bisa terus berusaha meningkatkan dan memantaskan diri agar kelak saat terima raport memperoleh nilai optimal.


Setiap keluarga unik, tak mungkin bisa dinilai hanya dengan satu _assessment_ yang dipukul rata, sama untuk semua keluarga demi sebuah raport. Karena pelajaran kehidupan pasti berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. 


Bicara tentang raport, aku yakin, banyak yang akan terhenyak ketika ada  pembagian raport bagi orang tua. Kalau benar ada, niscaya akan banyak orang tua yang berlomba-lomba mengukir prestasi dalam mendidik anak. Yang hasilnya akan tertulis di raport demi menjadi kebanggaan anak-anaknya.


Raport oh raport...


Benar...

Kelak saat ada pembagian raport bagi orang tua, pasti semua akan meminta nilai terbaik untuk menunjukkan kompetensi yang dimiliki selama mendidik anak. Namun apakah permintaan akan nilai itu sudah sebanding dengan apa  yang sudah kita lakukan sebagai orang tua?


Adakah kemanfaatan bagi lingkungan telah terasakan selama orang tua membersamai anak?


Sebagai muslim, ada satu pertanyaan yang mengusikku, apakah sudah menghantarkan anak menjadi seorang yang mukallaf?


Aduh...

Tuh kan...

Aku jadi deg-degan melihat hasil raportku sebagai orang tua.


Wallahu alam


Yani, si BuPer




****

Animasi GIF diambil dari canva